KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bursa saham Jepang ditutup menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026), mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan dipimpin oleh saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, mengikuti reli saham teknologi di Amerika Serikat (AS). Indeks Nikkei 225 ditutup naik 1,4% ke level 67.743,85. Sementara itu, indeks yang lebih luas, TOPIX, menguat 0,4% menjadi 4.020,37.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Didorong Demam AI, Ketegangan AS-Iran Angkat Harga Minyak Penguatan Nikkei terutama ditopang oleh saham sektor semikonduktor. Produsen chip memori Kioxia melonjak 8,3%, disusul Advantest yang naik 5,9% dan Tokyo Electron yang menguat 5,5%. Sentimen positif datang dari Wall Street setelah indeks Nasdaq menguat menyusul kesepakatan pasokan chip senilai lebih dari US$ 30 miliar antara Broadcom dan Apple. Optimisme juga didorong laporan bahwa China akan mengizinkan perusahaan-perusahaan AI terbesarnya membeli chip H200 milik Nvidia dalam jumlah terbatas. "Kabar dari China tampaknya memicu ekspektasi ekspansi bisnis di sepanjang rantai pasok Nvidia, termasuk di Jepang," ujar Wataru Akiyama, analis strategi ekuitas Nomura Securities.
Baca Juga: Bursa Jepang Menguat Didorong Saham AI dan Meredanya Kekhawatiran Pasokan Minyak Meski demikian, penguatan pasar tidak berlangsung tanpa hambatan. Sentimen investor tertahan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah berakhir. Militer AS juga melancarkan serangan baru ke Iran guna menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka, setelah tiga kapal kargo diserang saat melintasi kawasan tersebut. Situasi ini mendorong harga minyak dunia naik sekitar 1% pada Kamis. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi di Jepang. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal negara mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 30 tahun. Dampaknya, saham-saham yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan suku bunga justru melemah. Sektor transportasi udara turun 2,2%, sektor peralatan transportasi terkoreksi 1,9%, sementara saham properti yang rentan terhadap kenaikan suku bunga turun 1,3%.
Baca Juga: Menanti Jurus Pemerintah Efisiensi Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia Secara keseluruhan, pelemahan saham masih lebih banyak dibandingkan yang menguat. Sebanyak 146 saham di Nikkei ditutup melemah, sedangkan hanya 77 saham yang naik. Reli indeks lebih banyak ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti Advantest dan Tokyo Electron. Di sisi lain, Mitsubishi Materials menjadi saham dengan penurunan terbesar setelah anjlok 6,9%, disusul Yokohama Rubber yang melemah 3,5%.