KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia menargetkan pasar karbon nasional dapat beroperasi penuh pada akhir Juni 2026, dengan perdagangan skala besar yang diharapkan mulai bergulir pada Juli 2026. Langkah ini diperkuat dengan terbitnya Permenhut 6/2026 yang membuka akses perdagangan karbon ke pasar luar negeri. CEO PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), John Anis menyambut positif kepastian regulasi melalui Perpres 110/2025 dan Permenhut 6/2026 tersebut.
Kerangka hukum ini dinilai memperkuat tata kelola Nilai Ekonomi Karbon (NEK) nasional.
Baca Juga: Pertamina NRE Gandeng US Grains & BioProducts Council untuk Pengembangan Bioetanol "Kerangka regulasi yang lebih jelas ini memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha, termasuk Pertamina NRE dan mitra-mitra kami, untuk berpartisipasi aktif dalam pasar karbon domestik maupun mengakses pasar internasional secara terintegrasi," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (28/4/2026). John menjelaskan, secara internal pihaknya telah menyiapkan portofolio proyek dekarbonisasi yang selaras dengan dua skema dalam Permenhut 6/2026, yakni skema Sertifikat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK) nasional maupun skema sukarela internasional (Non-SPE GRK). Guna memuluskan langkah tersebut, John mengungkapkan, pihaknya intens melakukan koordinasi dengan kementerian terkait dan Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon). Hal ini dilakukan untuk memastikan kesiapan operasional perusahaan sejalan dengan tahapan implementasi yang dipatok pemerintah. Sejauh ini, anak usaha Pertamina ini terus memacu proyek penurunan emisi yang berpotensi menghasilkan unit karbon melalui berbagai lini energi bersih. "Antara lain melalui proyek panas bumi, biogas, serta inisiatif lain berbasis energi terbarukan. Salah satunya adalah proyek PLTBg Sei Mangkei yang merupakan kolaborasi Pertamina NRE dengan PTPN III," lanjutnya.
Baca Juga: Pertamina NRE Kuasai 20% Saham CREC Perusahaan EBT Asal Filipina John meyakini momentum regulasi saat ini akan menjadi katalis positif bagi peningkatan partisipasi pasar ke depan. Apalagi, Indonesia memiliki potensi pasar karbon yang sangat besar, baik dari sektor berbasis alam (Nature-Based Solutions) maupun sektor transisi energi, yang mulai diminati pembeli internasional menjelang COP30. Dalam hal ini, Pertamina NRE berkomitmen menjadi kontributor utama penyedia unit karbon berkualitas tinggi dari Indonesia untuk pasar domestik maupun mancanegara. "Sejalan dengan komitmen Pertamina dan target NDC Indonesia," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News