KONTAN.CO.ID - Pasar saham Korea Selatan anjlok pada perdagangan Kamis (2/7/2026), dengan indeks acuan KOSPI merosot hampir 8% akibat aksi jual besar-besaran saham sektor semikonduktor. Kekhawatiran terhadap prospek permintaan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI) memicu tekanan di saham-saham teknologi.
Baca Juga: Microsoft Gandeng Lightstorm Bangun Kabel Bawah Laut India-Asia Tenggara Melansir
Reuters, Indeks KOSPI ditutup turun 655,32 poin atau 7,89% ke level 7.648,09, menjadi penutupan terendah sejak 8 Juni. Tekanan terbesar datang dari saham produsen chip. Saham Samsung Electronics ambles 9,06%, sedangkan SK Hynix merosot 14,57%. Aksi jual dipicu laporan bahwa Meta Platforms tengah membangun bisnis layanan cloud untuk menjual kapasitas komputasi AI yang berlebih. Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa industri AI berpotensi menghadapi kelebihan kapasitas (
overcapacity), sehingga memicu aksi ambil untung di saham-saham semikonduktor yang sebelumnya telah menguat tajam.
Baca Juga: AS-Iran Akhiri Perundingan Doha, Belum Ada Terobosan Damai Permanen Di luar sektor chip, pergerakan saham cenderung bervariasi. Saham LG Energy Solution naik 1,72%. Sementara itu, saham Hyundai Motor turun 1,13%, sedangkan Kia Corporation menguat 2,61%. Di sektor lainnya, saham POSCO Holdings naik 0,79%, sementara Samsung Biologics menguat 0,72%. Dari total 916 saham yang diperdagangkan di Bursa Korea, sebanyak 280 saham menguat, sedangkan 616 saham melemah. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (
net sell) senilai 4,37 triliun won.
Baca Juga: Rusia Gempur Kyiv, 10 Tewas dan Puluhan Terluka dalam Serangan Balasan Di pasar valuta asing, won Korea Selatan melemah 0,30% ke level 1.555,8 won per dolar AS. Meski terkoreksi tajam pada perdagangan hari ini, indeks KOSPI masih mencatat kenaikan sekitar 81,5% sepanjang tahun berjalan. Di sisi lain, won telah melemah sekitar 7,5% terhadap dolar AS sejak awal tahun. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan tenor tiga tahun turun 4,4 basis poin menjadi 3,743%, sedangkan yield obligasi tenor 10 tahun naik 2,5 basis poin menjadi 4,182%.