Bursa Korea Selatan Ambruk 1,37% Kamis (10/9), Perang Iran-AS Bikin Investor Kabur



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Korea Selatan kembali tertekan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Indeks acuan KOSPI merosot lebih dari 1% seiring memburuknya sentimen risiko akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, KOSPI turun 96,61 poin atau 1,37% menjadi 6.955,03 pada pukul 00.58 GMT.

Tekanan terjadi setelah Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu (9/9).


Baca Juga: ECB Hadapi Bom Inflasi dari Perang Iran, Suku Bunga Bakal Naik Lagi?

Serangan tersebut dilakukan setelah Amerika Serikat (AS) menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.

Rangkaian serangan tersebut menjadi salah satu gelombang serangan terbesar terhadap kapal sejak konflik Iran-AS berlangsung sekitar enam bulan.

Meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memicu aksi penghindaran risiko di pasar keuangan.

Investor mencermati potensi gangguan terhadap perdagangan dan pasokan energi global apabila konflik terus meluas.

Saham-saham berkapitalisasi besar di Korea Selatan ikut terseret. Saham Samsung Electronics turun 1,67%, sedangkan SK Hynix melemah 1,35%.

Saham LG Energy Solution juga turun 0,81%. Sementara itu, Hyundai Motor terkoreksi 0,77% dan Kia Corp turun 0,39%.

Di sektor lainnya, POSCO Holdings melemah 0,30%, sedangkan Samsung BioLogics turun 1,72%.

Dari 906 saham yang diperdagangkan, sebanyak 197 saham menguat dan 666 saham melemah.

Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih saham Korea Selatan senilai 219,3 miliar won atau sekitar US$ 163,94 juta.

Baca Juga: Harga Emas Spot Tertahan di US$ 4.396 Kamis (10/9), Investor Tunggu Data Inflasi AS

Won bergerak terbatas

Di pasar valuta asing, won Korea Selatan justru sedikit menguat terhadap dolar AS.

Won berada di level 1.339,3 per dolar AS di pasar domestik, menguat 0,07% dibandingkan penutupan sebelumnya di 1.340,2.

Dalam perdagangan offshore, won berada di 1.337,8 per dolar AS atau menguat 0,1%. Sementara kontrak non-deliverable forward (NDF) satu bulan berada di 1.337,4 per dolar AS.

Sepanjang tahun berjalan, KOSPI masih mencatat kenaikan sebesar 65,04%. Sementara won telah menguat 7,5% terhadap dolar AS.

Namun, kenaikan imbal hasil obligasi menunjukkan investor tetap mewaspadai tekanan inflasi dan risiko pasar akibat perkembangan geopolitik.

Imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan bertenor tiga tahun naik 3 basis poin menjadi 3,936%. Sementara yield obligasi tenor 10 tahun meningkat 5,3 basis poin menjadi 4,443%.

Baca Juga: AS Kecolongan! Drone Bawah Laut Canggih Jatuh ke Tangan Iran

Kontrak berjangka obligasi pemerintah tiga tahun untuk September turun 0,07 poin menjadi 102,97.

Pergerakan pasar Korea Selatan selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, khususnya dampaknya terhadap harga energi, inflasi dan prospek kebijakan moneter global.