KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Indeks saham utama Korea Selatan, KOSPI, merosot tajam pada perdagangan Selasa (28/7/2026) seiring aksi jual besar-besaran di saham sektor semikonduktor. Tekanan terhadap saham raksasa chip, Samsung Electronics dan SK Hynix, membuat KOSPI mencatat penurunan harian terdalam dalam hampir lima bulan terakhir. Pada penutupan perdagangan, KOSPI jatuh 732,09 poin atau 10,84% ke level 6.023,66. Ini merupakan penurunan harian terbesar sejak 4 Maret, ketika pasar terguncang akibat pecahnya perang Iran.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok Hampir 4% Jumat (6/2), Terburuk dalam 15 Bulan Di tengah perdagangan, indeks sempat merosot hingga 11,3% dan memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker) untuk kedelapan kalinya sepanjang tahun ini. KOSPI juga sempat diperdagangkan di bawah level 6.000 untuk pertama kalinya sejak 14 April. Sepanjang Juli, KOSPI telah kehilangan sekitar 29% nilainya. Penurunan bulanan ini melampaui rekor koreksi 27% yang terjadi pada Oktober 1997. Meski demikian, secara tahunan indeks masih mencatat kenaikan sekitar 43%, meskipun sudah terkoreksi 34% dari puncaknya pada Juni yang mencapai 9.114,55. Tekanan terbesar datang dari saham produsen memori SK Hynix yang anjlok 14,7% setelah American Depositary Receipts (ADR) perusahaan di Bursa New York menyentuh level terendah sepanjang sejarah dan turun di bawah harga penawaran perdana di Amerika Serikat.
Baca Juga: Booming AI Angkat Prestise Karyawan Samsung dan SK Hynix, Jadi Rebutan di Pasar Jodoh Sementara itu, saham Samsung Electronics merosot 14,4%, menjadi penurunan harian terdalam sejak Oktober 2008. Kedua emiten tersebut memiliki bobot lebih dari separuh kapitalisasi indeks KOSPI sehingga pelemahan tajam pada sektor semikonduktor langsung menyeret keseluruhan pasar. Samsung dan SK Hynix juga dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal II pada pekan ini. Sentimen negatif semakin kuat setelah perusahaan chip asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), mencatat debut yang sangat kuat di pasar saham. Kekhawatiran investor juga meningkat menyusul laporan bahwa perusahaan China yang didukung pemerintah mulai memproduksi peralatan litografi immersion DUV, teknologi penting dalam industri semikonduktor. Analis Mirae Asset Securities, Kim Seok-hwan, mengatakan kekhawatiran pasar bukan hanya terhadap kinerja CXMT saat ini, tetapi juga terhadap potensi ekspansi kapasitas dan pengembangan teknologinya setelah melantai di bursa. "Kekhawatiran pasar lebih tertuju pada potensi percepatan ekspansi kapasitas CXMT untuk menyaingi perusahaan Korea serta pengembangan teknologinya setelah IPO," kata Kim Seok-hwan, analis Mirae Asset Securities.
Baca Juga: Saham Chip Anjlok Saat Investor Asing Keluar, Bursa Korea Selatan Merosot 5% Di sisi lain, otoritas jasa keuangan Korea Selatan menyatakan tengah mempertimbangkan pembatasan investasi pada exchange traded fund (ETF) leverage berbasis satu saham bagi investor ritel apabila volatilitas pasar terus meningkat. Instrumen tersebut dinilai turut memperbesar gejolak pasar sejak diperkenalkan pada Mei lalu.
Dari sisi aliran dana, investor asing mencatat penjualan bersih saham senilai 5 triliun won, sedangkan investor ritel membukukan pembelian bersih sekitar 4 triliun won. Tekanan di pasar juga terlihat dari sebaran saham yang diperdagangkan. Dari 917 emiten, hanya 36 saham yang berhasil menguat, sementara 878 saham ditutup melemah.
Baca Juga: Saham Teknologi Jatuh, Indeks KOSPI Korea Selatan Anjlok Hampir 9% Pagi Ini Di pasar valuta asing, won Korea ditutup menguat 0,2% ke level 1.462,5 per dolar AS setelah sempat melemah hingga 1.472,1. Pelaku pasar menilai penguatan tersebut dipicu aksi jual dolar oleh SK Hynix yang berkaitan dengan transaksi penjualan sahamnya di Amerika Serikat.