KONTAN.CO.ID - Bursa saham Korea Selatan mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (28/7/2026), dengan indeks acuan KOSPI anjlok lebih dari 7% akibat aksi jual saham-saham semikonduktor global. Kekhawatiran terhadap meningkatnya persaingan dari produsen chip asal China menjadi pemicu utama pelemahan tersebut.
Baca Juga: Donald Trump: AS dan Iran Sedang Melakukan Perundingan yang Bagus Mengutip
Reuters, indeks KOSPI merosot 500,47 poin atau 7,41% ke level 6.253,81. Penurunan tajam itu memaksa otoritas bursa mengaktifkan mekanisme sidecar pada KOSPI dan indeks Kosdaq, yang menghentikan sementara perdagangan program guna meredam gejolak pasar. Saham produsen chip memori SK Hynix menjadi salah satu yang paling terpukul dengan penurunan sekitar 10%. Tekanan terjadi setelah American Depositary Receipts (ADR) perusahaan tersebut jatuh ke level terendah sepanjang sejarah di Bursa New York dan turun di bawah harga penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikat. Sementara itu, saham Samsung Electronics, yang juga menjadi konstituen utama KOSPI, melemah 9,15%.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Puncak Sebulan, Cermati Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Kedua perusahaan tersebut menyumbang lebih dari separuh bobot indeks KOSPI, sehingga pelemahan saham keduanya memperbesar tekanan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan. Sentimen negatif juga dipicu perkembangan industri semikonduktor di China. Investor mencermati debut spektakuler ChangXin Memory Technologies (CXMT) di pasar saham, serta laporan bahwa perusahaan yang didukung pemerintah China telah mulai memproduksi peralatan litografi immersion DUV.
Analis Mirae Asset Securities yang berbasis di Seoul, Kim Seok-hwan mengatakan, kekhawatiran pasar bukan terletak pada kinerja keuangan CXMT saat ini, melainkan pada potensi ekspansi kapasitas produksi yang lebih cepat setelah perusahaan tersebut melantai di bursa. "Perhatian pasar lebih tertuju pada potensi percepatan ekspansi kapasitas CXMT untuk menyaingi perusahaan-perusahaan Korea serta pengembangan teknologinya setelah IPO," ujar Kim.
Baca Juga: USTR: Tarif Baru Trump Tidak Akan Berdampak ke Ekonomi Aksi jual saham semikonduktor ini memperpanjang tekanan terhadap sektor teknologi global, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa produsen chip China akan semakin agresif mempersempit kesenjangan teknologi dengan para pemain utama dunia.