Bursa Korea Selatan Anjlok 8,6%, Saham Samsung dan SK Hynix Terjun Bebas



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Pasar saham Korea Selatan mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Jumat (6/11/2026).

Indeks Kospi anjlok lebih dari 8% pada awal perdagangan hingga memicu penghentian sementara transaksi saham dan derivatif (circuit breaker).

Mengutip Reuters, Kospi sempat merosot 8,6% atau sekitar 500 poin ke level 4.923,47 pada pukul 09.26 waktu setempat.


Penurunan tersebut membawa indeks kembali ke bawah level psikologis 5.000, sekaligus menjadi posisi terendah dalam sembilan bulan terakhir.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 10,8%, Saham Samsung dan SK Hynix Jadi Biang Tekanan

Bursa Korea Selatan (KRX) mengaktifkan mekanisme circuit breaker pada pukul 09.03 waktu setempat. Kebijakan ini menghentikan sementara seluruh perdagangan saham dan derivatif selama 20 menit untuk meredam tekanan jual yang terjadi di pasar.

Tekanan terutama datang dari saham-saham teknologi dan semikonduktor. Saham Samsung Electronics anjlok 10%, sedangkan saham SK Hynix merosot 13%.

Koreksi juga menjalar ke sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya. Saham produsen baterai LG Energy Solution turun 4%, Hyundai Motor melemah 6,9%, sementara Kia Corp terkoreksi 4%.

Pelemahan bursa Korea Selatan mengikuti aksi jual besar-besaran di pasar saham Amerika Serikat (AS).

Wall Street mencatat penurunan harian terburuk dalam lebih dari setahun pada Kamis (5/11/2026), terutama akibat aksi ambil untung dan pelepasan posisi pada saham teknologi serta semikonduktor yang sebelumnya mencatat kenaikan tinggi.

Ketidakpastian kebijakan terkait kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data turut memicu kekhawatiran investor.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok Dua Hari Beruntun, Demam AI Berubah Jadi Aksi Jual Besar

Hal ini menyusul kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu AS yang memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan pemerintah terhadap pengembangan infrastruktur AI.

Ketua Institute for Global Economics Jun Kwang-woo menilai koreksi pasar memang diperlukan. Namun, ia melihat tekanan jual saat ini berpotensi berlebihan sebagai respons terhadap hasil pemilu AS.

"Kami berharap pasar segera stabil karena ada kemungkinan reaksi pasar saat ini terlalu berlebihan," ujar Jun, yang pernah menjabat sebagai Ketua National Pension Service Korea Selatan.

Jun juga menyoroti potensi perlambatan pembangunan infrastruktur AI, khususnya pusat data, di tengah meningkatnya kekhawatiran di sejumlah negara bagian AS, termasuk Texas.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 3,13% di Tengah Eskalasi Perang AS-Iran

Kondisi tersebut dapat memengaruhi prospek perusahaan pemasok perangkat keras dan semikonduktor yang selama ini menikmati lonjakan permintaan dari investasi AI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News