KONTAN.CO.ID - Saham-saham Korea Selatan ditutup menguat pada Rabu (25/3/2026), menandai penguatan untuk sesi kedua berturut-turut. Optimisme muncul seiring kabar rencana gencatan senjata selama sebulan yang diusulkan Amerika Serikat (AS) serta rencana penyelesaian 15 poin terkait Iran, yang dinilai dapat memulihkan ekspor minyak dari Teluk. Melansir
Reuters, indeks acuan KOSPI naik 88,29 poin atau 1,59% menjadi 5.642,21. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menguat hingga 3,4%.
Baca Juga: Bursa Jepang Ditutup Melejit Rabu (25/3), Indeks Nikkei 225 Naik Hampir 3% Sumber
Reuters mengonfirmasi bahwa AS mengirimkan proposal penyelesaian 15 poin ke Iran. Sementara itu, Channel 12 Israel, mengutip narasumber, menyebut AS tengah berupaya gencatan senjata selama sebulan untuk membahas rencana tersebut. Namun, Tehran membantah adanya negosiasi langsung, dengan kantor berita negara IRNA mengutip juru bicara militer yang menyatakan AS “secara efektif sedang menegosiasikan dengan dirinya sendiri.” “Pasar domestik memang menahan kenaikan karena masih ada ketidakpastian terkait pernyataan dan langkah yang diambil,” kata Lee Kyoung-min, analis di Daishin Securities.
Baca Juga: GM Bakal Tanam Investasi US$ 600 Juta di Korea Selatan Di antara saham unggulan, produsen chip Samsung Electronics turun 0,37%, sedangkan rivalnya SK Hynix naik 0,91% terkait rencana pencatatan sahamnya di AS pada paruh kedua 2026. Produsen baterai LG Energy Solution naik 0,38%, Hyundai Motor menguat 1,83%, POSCO Holdings menambah 0,74%, dan Samsung BioLogics naik 2,46%. Dari total 923 saham yang diperdagangkan, 719 menguat sementara 166 melemah. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih senilai 1,3 triliun won (US$ 867 juta). Nilai tukar won di platform onshore ditutup di 1.499,7 per dolar AS, sedikit menguat 0,01% dibanding penutupan sebelumnya di 1.499,9.
Dana pensiun Korea Selatan akan berupaya meningkatkan rasio lindung nilai strategis jangka panjang untuk menstabilkan won yang rentan, demikian laporan Reuters.
Baca Juga: Asia Kembali Lirik Skema WFH ala Pandemi Covid-19, Antisipasi Krisis Energi Global Di pasar uang dan obligasi, kontrak berjangka obligasi pemerintah tiga tahun untuk Juni turun 0,03 poin menjadi 103,54. Imbal hasil obligasi tiga tahun yang paling likuid turun 0,1 basis poin menjadi 3,563%, sementara imbal hasil acuan obligasi 10 tahun naik 1,1 basis poin menjadi 3,861%.