KONTAN.CO.ID - Bursa saham Korea Selatan bergerak melemah pada perdagangan Senin (13/4/2026), menyusul kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik, yang memicu kekhawatiran baru di pasar global. Melansir
Reuters, Indeks acuan KOSPI turun 62,26 poin atau 1,06% ke level 5.796,61 pada pukul 02.45 GMT, setelah sempat anjlok lebih dari 2% di awal sesi.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Turun 1% Senin (13/4), Sentimen Energi Membayangi Sentimen negatif dipicu rencana militer AS untuk memblokade jalur pelayaran menuju pelabuhan Iran setelah perundingan akhir pekan gagal mencapai kesepakatan, sehingga memperbesar risiko terhadap gencatan senjata yang masih rapuh. Analis Mirae Asset Securities Seo Sang-young menilai, langkah tersebut meningkatkan potensi volatilitas pasar serta gangguan rantai pasok global. “Blokade Selat Hormuz oleh AS meningkatkan kemungkinan volatilitas pasar dan disrupsi rantai pasok global,” ujarnya. Di pasar saham, emiten berkapitalisasi besar bergerak bervariasi. Raksasa teknologi Samsung Electronics turun 2,18%, sementara SK Hynix justru naik tipis 0,19%.
Baca Juga: Malaysia Tahan Dua Kapal Tanker, 22 ABK Ditangkap dan Ada WNI Saham produsen baterai LG Energy Solution melemah 2,06%. Di sektor otomotif, Hyundai Motor Company turun 2,25% dan Kia Corporation terkoreksi 1,48%. Sementara itu, saham baja POSCO Holdings turun 2,71%, dan saham farmasi Samsung Biologics melemah 1,27%. Dari total 908 saham yang diperdagangkan, sebanyak 538 saham turun dan hanya 332 saham yang menguat, mencerminkan tekanan jual yang cukup luas di pasar. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) saham senilai 630,8 miliar won atau sekitar US$423,41 juta. Di pasar valuta asing, won Korea Selatan melemah 0,42% ke level 1.489,8 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di 1.483,5.
Sementara itu, di pasar obligasi, harga kontrak berjangka obligasi pemerintah tenor tiga tahun turun 0,14 poin menjadi 104,15.
Baca Juga: Peso Filipina dan Baht Thailand Pimpin Pelemahan Mata Uang Asia terhadap Dolar AS Imbal hasil obligasi pemerintah tenor tiga tahun naik 5,2 basis poin menjadi 3,408%, sedangkan yield obligasi tenor 10 tahun meningkat 5,4 basis poin ke level 3,741%. Tekanan di pasar Korea Selatan mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak konflik geopolitik terhadap stabilitas ekonomi global, khususnya melalui jalur energi dan perdagangan.