KONTAN.CO.ID - Bursa saham Korea Selatan menguat tajam pada perdagangan Jumat (10/4) dan berada di jalur mencatat kinerja mingguan terbaik dalam lebih dari 17 tahun. Melansir
Reuters, indeks acuan KOSPI naik 2,05% atau 118,34 poin ke level 5.896,35 pada awal perdagangan. Secara mingguan, indeks ini telah melonjak sekitar 9,7% setelah sebelumnya mencatat dua pekan berturut-turut penurunan.
Jika tren ini berlanjut, KOSPI akan mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober 2008.
Baca Juga: Bursa Australia Turun Jumat (10/4), Saham Tambang Tertekan Jelang Perundingan Timteng Sentimen positif pasar didorong oleh meningkatnya optimisme terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah, khususnya terkait gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, Departemen Luar Negeri AS dijadwalkan menggelar pertemuan pekan depan untuk membahas negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Di sisi kebijakan moneter, bank sentral Korea Selatan mempertahankan suku bunga acuannya, mencerminkan sikap hati-hati di tengah risiko inflasi akibat konflik Iran serta potensi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi yang sangat bergantung pada impor energi. Dari sisi saham, emiten teknologi menjadi pendorong utama kenaikan. Samsung Electronics naik 2,57%, sementara SK Hynix melonjak 3,81%. Namun, tidak semua sektor menguat. LG Energy Solution turun 0,95%. Saham otomotif juga mencatat kenaikan, dengan Hyundai Motor naik 0,51% dan Kia menguat 0,13%.
Baca Juga: Jepang Akan Lepas Cadangan Minyak Tambahan 20 Hari Mulai Mei Di sektor lain, POSCO Holdings turun tipis 0,14%, sementara Samsung BioLogics naik 0,32%.
Dari total 912 saham yang diperdagangkan, sebanyak 692 saham menguat dan 179 saham melemah, mencerminkan dominasi sentimen positif di pasar. Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih saham senilai 167,4 miliar won (sekitar US$113,25 juta), turut menopang penguatan indeks. Di pasar valuta asing, won Korea diperdagangkan di level 1.478,9 per dolar AS, melemah 0,28% dibanding penutupan sebelumnya. Sementara itu, di pasar obligasi, yield obligasi pemerintah tenor 3 tahun turun 2,5 basis poin menjadi 3,316%, dan yield obligasi tenor 10 tahun turun 0,6 basis poin ke level 3,654%.