Bursa Saham Asia Anjlok, Harga Perak dan Bitcoin Juga Terjun Bebas



KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Saham-saham Asia melemah tajam pada Kamis (5/2/2026) seiring kekhawatiran investor terhadap lonjakan biaya investasi kecerdasan buatan (AI) yang mendorong rotasi keluar dari sektor teknologi. 

Tekanan tambahan datang dari penurunan harga perak yang memukul posisi leverage para investor.

Perusahaan induk Google, Alphabet, melaporkan penjualan yang solid pada Rabu (4/2), tetapi mengumumkan rencana belanja modal (capex) sebesar US$ 175 miliar – US$ 185 miliar tahun ini, jauh di atas perkiraan analis. 


Baca Juga: Bursa Saham Asia Melemah Tertekan Kekhawatiran Valuasi yang Terlalu Tinggi

Saham Alphabet sempat turun lebih dari 6% sebelum akhirnya menutup sesi setelah jam perdagangan dengan penurunan tipis 0,4%. “Lonjakan capex Alphabet sangat besar. 

Di tengah sentimen pasar yang sangat sensitif terhadap perusahaan perangkat lunak dan valuasi AI, reaksi negatif memang wajar,” ujar Tony Sycamore, analis IG.

Investor kini beralih ke saham defensif seperti Walmart karena kekhawatiran AI mengganggu lapangan kerja. Sejak 28 Januari, aksi jual yang dipicu oleh inovasi baru pada model bahasa besar Anthropic Claude telah menghapus sekitar US$830 miliar nilai pasar. 

Penurunan saham chip Advanced Micro Devices (AMD) sebesar 17% juga menambah tekanan di sektor teknologi.

Secara regional, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,7%, dengan KOSPI Korea Selatan anjlok 3,6%.

Baca Juga: Bursa Saham Asia Melemah, Kekhawatiran Ekonomi Global Makin Menguat

Saham Taiwan turun 1,1%, meski sektor keuangan dan properti menunjukkan kinerja lebih baik. Nikkei Jepang merosot 0,7%, sementara sektor kesehatan, properti, dan utilitas justru naik.

Di sisi lain, harga aset kripto juga tertekan. Bitcoin turun 1,8% ke level US$71.404, level terendah sejak November 2024. 

Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada laporan laba Amazon yang dirilis hari ini serta rapat kebijakan Bank of England dan European Central Bank, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga.

Harga logam mulia ikut anjlok setelah sempat menguat dua hari berturut-turut. Perak turun 15% ke US$74,6 per ons, mendekati level terendah baru-baru ini di US$71,32. Emas juga melemah 1,8% menjadi US$4.863 per ons.

Nilai tukar mata uang risiko seperti dolar Australia dan Kiwi juga melemah, masing-masing 0,4% ke US$0,6969 dan 0,3% ke US$0,5984. 

Baca Juga: Bursa Saham Asia Bergerak Hati-Hati Senin (8/12) Pagi, Menjelang Keputusan The Fed

Yen Jepang stabil di 156,82 per dolar menjelang pemilu umum pada Minggu, di mana Perdana Menteri Sanae Takaichi diperkirakan meraih kemenangan dan melanjutkan ambisi belanja pemerintah, memicu kekhawatiran soal keuangan negara.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 4,2595%. Laporan non-farm payrolls Januari AS ditunda ke 11 Februari setelah penutupan parsial pemerintah selama empat hari berakhir.

Baca Juga: Bursa Saham Asia Menguat Senin (22/12) Pagi, Yen Tertekan Meski Suku Bunga BOJ Naik

Harga minyak mentah juga turun setelah dua hari berturut-turut menguat, menyusul kesepakatan AS dan Iran untuk menggelar perundingan di Oman pada Jumat meski masih berbeda pandangan soal agenda. 

Minyak mentah West Texas Intermediate turun 1,4% ke US$64,23 per barel, sedangkan Brent juga turun 1,4% ke US$68,47 per barel.

Selanjutnya: 20 Bus Transjabodetabek Rute Blok M–Bandara Soetta Mulai Beroperasi Pekan Depan

Menarik Dibaca: Bangunan Tahan Lama Berawal dari Perencanaan, Simak Tipsnya