Bursa Saham Australia Anjlok, Indeks ASX 200 Kembali Jatuh di Bawah 9.000



KONTAN.CO.ID - SYDNEY, Pasar saham Australia kembali tertekan pada perdagangan Jumat (6/11/2026).

Indeks S&P/ASX 200 turun di bawah level psikologis 9.000, terseret aksi jual saham pertambangan dan teknologi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap regulasi kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, indeks S&P/ASX 200 melemah 0,8% ke posisi 8.994,50 pada pukul 23.46 GMT. Penurunan ini berpotensi menjadi koreksi harian terbesar sejak 1 Oktober 2026.


Pelemahan tersebut terjadi sehari setelah indeks melonjak 2,6% hingga kembali menembus level 9.000. Namun, sentimen pasar berubah setelah Nasdaq mencatat penurunan harian terdalam sejak aksi jual besar pada April 2025.

Investor mulai mencermati prospek pengetatan pengawasan terhadap investasi AI dan pusat data setelah Partai Demokrat menguasai Kongres AS.

Baca Juga: Bursa Australia Anjlok 1,4% Kamis (10/9), Minyak di Atas US$ 100 Jadi Biang Kerok

Kekhawatiran terhadap valuasi saham berbasis AI dan arah kebijakan regulasi turut memicu aksi jual di pasar saham global.

Tekanan juga datang dari kenaikan harga minyak menyusul kembali terjadinya serangan terhadap kapal tanker. Kondisi ini semakin menekan minat investor terhadap aset berisiko.

Di Bursa Australia, saham-saham pertambangan menjadi pemberat utama dengan penurunan sektor mencapai 4,4%. Pelemahan harga tembaga setelah reli yang didorong optimisme terhadap perkembangan AI turut menekan kinerja sektor tersebut.

Saham BHP anjlok 4,9%, sementara Rio Tinto turun 3,9% dan Fortescue terkoreksi 2,9%. BHP menjadi salah satu emiten yang terdampak karena kontribusi tembaga terhadap labanya semakin besar dibandingkan bijih besi.

Saham teknologi juga melemah 2,6%, disusul sektor properti yang turun 1,3%. Sementara itu, saham perusahaan tambang emas terkoreksi 2,9% meskipun harga emas batangan justru menguat.

Di tengah tekanan pasar, sektor keuangan bergerak berlawanan arah dengan kenaikan 0,9%. Empat bank terbesar Australia mencatat penguatan saham antara 0,8% hingga 2,2%, seiring peralihan investor ke sektor yang dinilai lebih defensif.

Baca Juga: Bursa Saham Australia Melemah, Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga Membebani

Namun, saham Macquarie Group justru merosot hingga 5,7% meskipun bank investasi tersebut membukukan laba semester pertama tertinggi sepanjang sejarah.

Tekanan terhadap Macquarie juga muncul setelah regulator prudensial Australia mengungkapkan adanya kesalahan penghitungan kebutuhan modal pada 2019 untuk menopang risiko di bisnis nonperbankan perusahaan tersebut.

Sementara itu, sektor barang konsumsi primer menguat 1,6%, menunjukkan adanya pergeseran investasi ke sektor yang relatif lebih defensif di tengah ketidakpastian pasar.

Di Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 turut melemah 0,9% ke posisi 13.965,94. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News