Bursa Saham Australia Ditutup Naik Tipis, Namun Ambles 7,8% Sepanjang Maret 2026



KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Bursa saham Australia mencatatkan kenaikan tipis karena aksi beli saat harga turun dan mencatatkan penurunan bulanan terbesar sejak Juni 2022 karena meluasnya perang di Timur Tengah memicu kecemasan investor atas risiko inflasi, permintaan yang lesu, dan biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Selasa (31/3/2026), indeks acuan S&P/ASX 200 ditutup menguat 0,3% ke 8.481,80 poin, dipimpin oleh kenaikan sektor keuangan sebesar 0,3%, yang menurut Winchester disebabkan oleh investor yang membeli saat harga turun. 

"Pasar berpegang pada komentar terbaru dari Presiden Trump tentang keluar dari konflik terlepas dari apakah Selat Hormuz dibuka atau tidak," kata Luke Winchester, manajer portofolio di Merewether Capital.


Baca Juga: Bank Sentral Malaysia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan 2026, Soroti Risiko Perang Iran

Dengan posisi ini, maka indeks acuan S&P/ASX 200 menutup bulan Maret yang penuh gejolak dengan penurunan 7,8% di sepanjang bulan ini. Ini terjadi karena perang di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah di atas US$ 100 per barel, mengancam inflasi yang tak terkendali di dalam negeri dan kebijakan moneter yang lebih ketat oleh bank sentral, yang dapat mengurangi permintaan konsumen dan pertumbuhan ekonomi.

Swap menunjukkan peluang 58% kenaikan suku bunga pada bulan Mei, dan menyiratkan sekitar 60 basis poin pengetatan total yang tersisa untuk tahun 2026.

"Pasar masih memperkirakan penyelesaian konflik Timur Tengah yang relatif cepat. Jika kita tidak mendapatkan itu, maka saya setuju dengan para ahli yang melihat keadaan akan menjadi sangat buruk," kata 

"Kenaikan suku bunga hanya akan membawa penderitaan lebih lanjut dalam skenario itu," kata Winchester.

Untuk bulan Maret, indeks perbankan berakhir merah 6,7%, dengan empat bank besar kehilangan antara 4% dan 15%. National Australia Bank kehilangan lebih dari 15% dalam penurunan bulanan terbesarnya sejak Maret 2020.

Bank-bank dengan eksposur hipotek yang besar akan menghadapi risiko resesi, yang menyebabkan pengangguran dan memburuknya kondisi konsumen seiring dengan kenaikan suku bunga, kata Winchester.

Baca Juga: Indonesia Akan Pinjamkan Komodo ke Jepang untuk Program Pengembangbiakan

Saham perusahaan pertambangan kehilangan 14% pada bulan tersebut, kinerja terburuk mereka sejak November 2015. Saham emas, yang melonjak 16% dalam dua bulan pertama tahun 2026, menghapus semua keuntungan tersebut dengan anjlok 24% pada bulan Maret.

Saham energi menonjol sebagai satu-satunya sub-indeks utama yang mengakhiri Maret dengan kenaikan, naik 18,5% untuk kinerja terbaiknya sejak April 2020 karena harga minyak yang lebih tinggi.

Di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 naik 1,3% untuk berakhir pada 12.912,11 poin pada hari itu, dan sekitar 6% lebih rendah untuk bulan tersebut.