JAKARTA. Emiten besar ramai-ramai memecah nilai nominal saham alias
stock split. Yang terbaru, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) akan memecah nilai saham dengan rasio 1:2. Hingga pertengahan tahun ini, setidaknya sembilan emiten saham menggelar
stock split. Misalnya, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) akan stock split dengan rasio 1 saham lama menjadi 25 saham baru. Harga nominal saham MYOR akan turun dari Rp 500 menjadi Rp 20 per saham. Sebelumnya, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga melakukan
stock split dengan rasio yang sama dengan MYOR. Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan,
stock split merupakan inisiatif para emiten guna meningkatkan likuiditas saham beredar.
Stock split ini juga dilatarbelakangi karakteristik investor dalam negeri.
"Investor kita senang melihat saham likuid, tapi juga yang harganya di bawah Rp 10.000," ujar Satrio kepada KONTAN, Selasa (19/7). Dengan
stock split, harga saham terlihat lebih murah dari sisi nominal saja. Sementara, masih ada indikator lain yang digunakan untuk membandingkan saham tersebut murah atau tidak, yakni
price earning ratio (PER). Semakin tinggi PER, apalagi melebihi PER industri, saham itu semakin mahal.
Stock split tidak serta-merta menurunkan PER. "Karena tidak ada saham baru yang diterbitkan. Kecuali
rights issue, ini baru bisa menurunkan PER," tambah Satrio. Kondisi ini yang terjadi pada ICBP dan induknya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). ICBP yang
stock split, tapi saham INDF yang naik. Pada perdagangan Selasa (19/7), saham ICBP hanya naik 1,8%, tapi saham INDF naik 4%. Ini karena investor menilai PER INDF lebih murah. Menurut data
Bloomberg, PER ICBP di level 31,74 kali, lebih tinggi ketimbang PER INDF di 23,02 kali. Ihwal nilai intrinsik sebuah saham seperti ini, kadang menjadi sisi negatif dari
stock split. Tujuan sekaligus manfaat positif
stock split adalah soal likuiditas. Karena likuid, terbukalah ruang kenaikan harga. Ada ekspektasi
gain dari kenaikan harga. Masalahnya, belum tentu setelah
stock split saham menjadi lebih likuid. "Kalau
stock split tapi PER masih tinggi belum tentu sahamnya banyak dibeli. Karena PER masih tinggi, peminatnya sedikit, jadi justru kurang likuid, harganya juga sulit naik karena suplai tidak sebanding permintaan," jelas Satrio. Yang jelas,
stock split akan menyebabkan harga saham lebih terjangkau. Lihat harga HMSP, ICBP dan MYOR yang relatif tinggi, sehingga
trader atau investor perlu mengeluarkan dana besar. Bayangkan kalau investor yang hanya memiliki dana sekitar Rp 20 juta-Rp 50 juta, tapi ingin membeli saham yang harga per unit di atas Rp 5.000.
"Sementara dengan
stock split, nilai perusahaan tidak berubah, tapi harga saham menjadi lebih murah," kata Frederik Rasali, analis Minna Padi Investama. Ada satu hal yang menurut Frederik juga perlu dicermati. Bisa saja setelah
stock split, fraksinya justru turun. Ini menjadi kurang menarik bagi investor. Apalagi bagi investor yang sebelumnya menghitung target harga menggunakan fraksi harga lama. Dari semua
stock split, Frederik memilih MYOR karena sedang tumbuh pesat. Emiten konsumer ini mampu efisiensi biaya packaging sekitar Rp 800 miliar, sehingga keuntungan bersih meningkat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News