Bursa Saham Global Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Hentikan Serangan



KONTAN.CO.ID - Bursa saham global menguat pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah meredanya konflik di Timur Tengah memicu penurunan tajam harga minyak, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi menjelang pekan yang dipenuhi agenda rapat bank sentral dan rilis laporan keuangan emiten.

Sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan pada Minggu (26/7) akan menghentikan serangannya selama Amerika Serikat juga menghentikan operasi militernya.

Baca Juga: Ekspor Produk Engineering India Melonjak 21% pada Juni, China Jadi Pendorong Utama


Laporan menyebut militer AS menghentikan sementara serangan karena mulai menghadapi keterbatasan persediaan amunisi.

Meredanya ketegangan di sekitar Selat Hormuz membuat harga minyak Brent turun 6,3% menjadi US$ 90,70 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,7% menjadi US$ 84,12 per barel.

Reli tersebut mendorong aksi beli di pasar saham global setelah pekan lalu konflik Timur Tengah sempat mengerek harga minyak hingga menembus US$ 100 per barel.

Di Eropa, indeks STOXX 600 naik hampir 0,5% dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 Juli. Saham sektor ritel dan perjalanan yang sensitif terhadap kondisi ekonomi melonjak lebih dari 2%, meski pelemahan saham-saham energi membatasi penguatan indeks.

Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,9%, sedangkan futures Nasdaq menguat 1,5%. Di Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bertambah 0,3%.

Baca Juga: Presiden FIFA Infantino Klaim Piala Dunia 2026 Berjalan Aman, Tepis Berbagai Kritik

Di pasar valuta asing, euro menguat 0,23% ke level US$ 1,1395. Mayoritas mata uang utama juga menguat terhadap dolar AS setelah pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan pekan ini.

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada Rabu (29/7). Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar sepertiga untuk kenaikan suku bunga, meski sebagian besar analis menilai Ketua The Fed Kevin Warsh kemungkinan belum akan mendukung langkah tersebut.

"Kenaikan suku bunga pekan ini akan mengirim sinyal kuat di awal masa jabatannya bahwa ia serius memperkuat kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi.

Namun kami belum yakin ia ingin langsung menerjemahkan sikap keras terhadap inflasi menjadi tindakan kebijakan secepat ini," kata Analis Mata Uang Senior MUFG, Lee Hardman.

Menurutnya, jika risiko inflasi tidak mereda selama musim panas, peluang kenaikan suku bunga pada September akan meningkat.

Baca Juga: Saham CXMT Melonjak 466% pada Debut Bursa, Jadi Perusahaan Paling Bernilai di China

Selain The Fed, pelaku pasar juga menantikan keputusan suku bunga Bank of England pada Kamis (30/7) dan Bank of Japan pada Jumat (31/7). Keduanya diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi tetap mewaspadai risiko inflasi.

Dolar AS turun 0,2% terhadap yen Jepang menjadi 163,53.

Dari China, indeks saham unggulan (blue chip) naik 1,2% setelah saham produsen chip memori CXMT Corp melonjak hampir 500% pada debut perdagangannya di Bursa Shanghai.

Perusahaan tersebut sebelumnya menghimpun dana sebesar US$ 8,6 miliar dalam IPO terbesar di Asia tahun ini.

Sementara itu, sekitar sepertiga perusahaan anggota indeks S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini.

Berdasarkan data LSEG IBES, laba perusahaan diperkirakan meningkat 26,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, tingginya ekspektasi pasar serta kekhawatiran terhadap besarnya belanja modal untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) membuat hasil yang kuat sekalipun belum tentu mampu memuaskan investor.

Baca Juga: Harga Tembaga Menguat Senin (27/7) usai Harga Minyak Anjlok, Pasar Pantau The Fed

Perhatian pasar juga tertuju pada laporan Wall Street Journal yang menyebut Nvidia sedang berdiskusi untuk menyediakan pendanaan sekitar US$ 250 miliar bagi OpenAI dalam proyek pembangunan pusat data.

Sejumlah raksasa teknologi yang dijadwalkan melaporkan kinerja pekan ini antara lain Microsoft, Meta Platforms, Amazon, Apple, dan Qualcomm.

Dari sisi data ekonomi, investor menunggu rilis estimasi awal pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal II yang diperkirakan meningkat menjadi 1,5% secara tahunan.

Selain itu, pasar juga akan mencermati indeks harga PCE Juni, data pendapatan dan belanja masyarakat, klaim pengangguran mingguan, indeks biaya tenaga kerja kuartal II, serta indeks sentimen konsumen Michigan.

Di kawasan Eropa, agenda ekonomi mencakup rilis awal PDB kuartal II, inflasi, sentimen ekonomi, kepercayaan konsumen, dan tingkat pengangguran.

Baca Juga: AstraZeneca Lampaui Ekspektasi Laba Kuartal II, Tetap Optimistis Tatap 2026

Survei Institut Ifo yang dirilis Senin menunjukkan kepercayaan dunia usaha Jerman meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Juli, didorong membaiknya ekspektasi pelaku usaha.

Di pasar obligasi, penurunan harga minyak mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 3,8 basis poin menjadi 4,64%.

Sementara itu, emas spot yang tidak memberikan imbal hasil naik 0,92% menjadi US$ 4.090,45 per ons, didukung turunnya imbal hasil obligasi AS.