KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Inggris bergerak melemah pada perdagangan Senin (22/6/2026) di tengah meningkatnya ketidakpastian politik setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatannya. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi dan fiskal Inggris ke depan. Indeks FTSE 250 yang berisi saham-saham domestik Inggris turun 0,7% dan menyentuh level terendah dalam sepekan. Sementara itu, indeks FTSE 100 yang lebih banyak dihuni perusahaan multinasional juga terkoreksi tipis 0,1%.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti sektor perlengkapan rumah tangga dan konstruksi perumahan, yang turun lebih dari 1%. Di saat yang sama, nilai tukar pound sterling melemah 0,1% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pasar kini menyoroti proses pergantian kepemimpinan di Inggris. Nama Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham disebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Starmer. Mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting juga masuk dalam bursa calon pemimpin Partai Buruh. Meski demikian, pelaku pasar menilai pergantian pemimpin belum tentu membawa perubahan signifikan terhadap kondisi ekonomi Inggris. Analis Senior Trade Nation David Morrison mengatakan Inggris menghadapi persoalan ekonomi yang sudah berlangsung lama sehingga siapa pun penggantinya kemungkinan akan menghadapi tantangan yang sama. "Inggris telah bergerak ke arah yang salah selama beberapa waktu. Saya tidak melihat pengganti Keir Starmer akan membawa perubahan yang jauh berbeda," ujar Morrison. Menurutnya, dinamika politik juga bisa berimbas pada susunan kabinet ekonomi berikutnya. Ia menilai Menteri Keuangan Rachel Reeves berpotensi kehilangan posisinya jika terjadi perubahan keseimbangan kekuatan di dalam Partai Buruh. Pengunduran diri Starmer membuka jalan bagi Inggris untuk memiliki pemimpin ketujuh dalam satu dekade terakhir. Situasi tersebut membuat investor semakin mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah berikutnya, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap beban utang negara dan belanja publik yang ditopang pembiayaan utang. Sorotan terhadap kebijakan fiskal semakin tajam setelah imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun (gilt) naik ke level tertinggi sejak 2008. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Inggris. Kekecewaan masyarakat terhadap kinerja ekonomi pemerintahan Starmer juga menjadi faktor yang memperburuk sentimen. Dalam beberapa tahun terakhir, utang publik dan biaya pinjaman pemerintah terus meningkat sehingga menekan ruang fiskal negara. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian investor global. Pasar terus memantau perkembangan negosiasi terkait konflik antara AS dan Iran, serta kepastian kelancaran kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia. Kombinasi ketidakpastian politik domestik, tantangan ekonomi, dan risiko geopolitik membuat indeks FTSE 250 yang berfokus pada ekonomi domestik Inggris tertinggal dibandingkan FTSE 100 sepanjang tahun ini.
Meski pasar secara umum melemah, saham maskapai berbiaya rendah easyJet melonjak 3,1% setelah perusahaan investasi AS Castlelake mengungkapkan tawaran akuisisi senilai 4,74 miliar pound sterling atau sekitar US$ 6,26 miliar. Namun, easyJet diketahui telah menolak tiga proposal yang diajukan sebelumnya. Sebaliknya, saham perusahaan pertahanan dan rekayasa Babcock International anjlok 5,2% setelah melaporkan laba operasional dasar tahunan yang turun 19%. Pergerakan pasar pekan ini juga bertepatan dengan satu dekade referendum Brexit, ketika Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa. Momen tersebut kembali mengingatkan investor bahwa ketidakpastian politik masih menjadi salah satu faktor utama yang membayangi prospek ekonomi Inggris.