Bursa Saham Negara Berkembang Tertekan Rabu (29/7), Jelang Keputusan The Fed



KONTAN.CO.ID - Bursa saham negara berkembang bertahan di dekat level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Rabu (29/7/2026), seiring berlanjutnya aksi jual saham sektor teknologi di Asia.

Sementara itu, mayoritas mata uang negara berkembang bergerak datar hingga menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Perang Timur Tengah Berkobar Lagi, AS-Arab Saudi Serang Milisi Pro-Iran di Irak


Mengutip Reuters, aksi jual saham chip di Asia berlanjut setelah koreksi tajam sehari sebelumnya. Investor masih mencemaskan tingginya valuasi perusahaan kecerdasan buatan (AI) serta besarnya belanja modal (capital expenditure/capex) yang belum diimbangi kepastian tingkat pengembalian investasi.

Kekhawatiran tersebut muncul menjelang rilis laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi AS.

Di Korea Selatan, indeks KOSPI anjlok 6%, dipimpin penurunan saham SK Hynix sebesar 9,6% setelah laporan keuangan kuartalannya gagal memenuhi ekspektasi pasar.

Indeks acuan tersebut kini menuju kinerja bulanan terburuk sepanjang sejarah. Tekanan semakin besar akibat posisi investasi berleverage yang dilakukan investor ritel pada saham-saham semikonduktor.

"Besarnya penggunaan leverage membuat proses pelepasan posisi belum akan selesai dalam satu atau dua pekan. Koreksi harga justru memicu sentimen negatif baru yang memperkuat tekanan pasar dan menutupi sentimen positif," ujar Peter Kim, Senior Managing Director KB Securities.

Baca Juga: Iran Tolak Usulan Oman Kelola Bersama Selat Hormuz, Ketegangan Kembali Memanas

Menteri Keuangan Korea Selatan pada Rabu juga menyampaikan permintaan maaf di parlemen atas peluncuran produk exchange-traded fund (ETF) berleverage untuk saham tunggal. Pemerintah, kata dia, tengah mengkaji berbagai langkah untuk menstabilkan pasar saham.

Di Taiwan, indeks saham yang didominasi emiten teknologi turun 3,8%, sedangkan saham-saham China justru menguat 0,7%.

Secara global, indeks saham negara berkembang MSCI Emerging Markets turun 1,4%, sementara indeks mata uang negara berkembang naik 0,3%.

Di kawasan Eropa Tengah dan Timur, mayoritas bursa bergerak positif. Indeks saham Polandia naik 0,6% dan Hungaria menguat 0,7%.

Sementara itu, bursa Rumania yang didominasi saham sektor energi bergerak datar, namun masih mencatat kinerja lebih baik dibandingkan negara tetangganya berkat kenaikan harga minyak.

Harga minyak melonjak sekitar 3% setelah sebelumnya merosot lebih dari 15% dalam tiga sesi perdagangan terakhir.

Baca Juga: Gucci Lampaui Ekspektasi, Saham Kering Naik di Tengah Lesunya Industri Barang Mewah  

Kenaikan dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap kelompok yang didukung Iran di Irak, serta penolakan Iran terhadap usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz.

Eskalasi terbaru di Timur Tengah turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish The Fed, meski bank sentral AS secara luas diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga dalam pertemuan kebijakan yang digelar Rabu waktu setempat.

Analis JPMorgan memperkirakan, setidaknya akan muncul dua suara berbeda (dissent) yang cenderung hawkish dalam rapat tersebut.

Hal itu didorong meningkatnya kekhawatiran sebagian anggota komite terhadap inflasi yang masih bertahan di atas target.

Di pasar valuta asing, sebagian besar mata uang Asia bergerak dalam kisaran terbatas terhadap dolar AS.

Baca Juga: BMW Pangkas Ribuan Karyawan di Jerman Lewat Program Pengunduran Diri Sukarela

Rand Afrika Selatan melemah 0,2% terhadap dolar, sementara pasar saham negara itu naik 0,8% mengikuti penguatan harga logam mulia.

Sementara di kawasan Eropa berkembang, mata uang bergerak melemah terhadap euro. Forint Hungaria mencatat pelemahan terbesar, turun 1% atau menjadi penurunan harian terdalam dalam lebih dari satu bulan.

Adapun lira Turki relatif stabil terhadap dolar AS.