KONTAN.CO.ID - Pasar saham Selandia Baru mencatatkan penurunan tajam lebih dari 1,5% pada perdagangan hari Senin (8/6/2026). Koreksi ini dipicu oleh peluncuran kembali serangan udara Israel ke Lebanon yang mengikis harapan pasar akan berakhirnya perang regional, sekaligus menunda pemulihan jalur distribusi minyak mentah dunia di Selat Hormuz.
Baca Juga: UPDATE-GFZ Mutakhirkan Gempa Mindanao Jadi M 7,8, Waspadai Gelombang Tsunami 1 Meter Melansir
Reuters, Indeks acuan S&P/NZX 50 anjlok hingga 1,6% ke level 12.950,00 pada awal perdagangan (00.01 GMT), menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir. Rapor merah ini berbanding terbalik dengan performa hari Jumat lalu, di mana indeks sempat ditutup menguat 0,5%. Sementara itu, aktivitas pasar keuangan di tetangga terdekatnya, Australia, hari ini tutup karena memperingati hari libur nasional. Hubungan Geopolitik Global dan Tekanan Domestik Aksi jual masif di bursa Wellington dipicu oleh kegagalan draf gencatan senjata, setelah Israel mendadak menggempur Lebanon pada hari Minggu. Serangan itu langsung dibalas oleh Iran dengan meluncurkan salvo rudal ke wilayah kedaulatan Israel.
Baca Juga: Mindanao Filipina Diguncang Gempa M 8,2, BMKG Indonesia Rilis Peringatan Tsunami Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membatalkan retaliasi, pelaku pasar terlanjur merespons negatif potensi risiko gangguan energi global. Di sisi lain, kondisi internal Selandia Baru kian memperberat sentimen pasar. Meski perekonomian domestik secara teknis telah keluar dari jurang resesi, laju pertumbuhan ekonomi Selandia Baru dinilai masih sangat lemah (anaemic). Kombinasi antara gejolak geopolitik Timur Tengah, ancaman inflasi global, serta kebijakan fiskal dalam negeri yang ketat terus menjadi beban berat bagi korporasi setempat.
Baca Juga: Dolar AS Makin Garang Senin (8/6), Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik ke 70% Sinyal Kenaikan Suku Bunga RBNZ Menguat Sentimen pasar juga dibayangi oleh proyeksi kebijakan moneter yang agresif (
hawkish). Akhir Mei lalu, Asisten Gubernur Bank Sentral Selandia Baru (RBNZ), Karen Silk, memperingatkan bahwa tekanan inflasi di dalam negeri tetap berisiko meningkat, bahkan jika konflik di Timur Tengah mereda dalam waktu dekat. Silk menegaskan bahwa RBNZ akan terus memantau data frekuensi tinggi secara ketat untuk menilai apakah kebijakan kenaikan suku bunga pada bulan Juli mendatang mendesak untuk dilakukan.
- Kebijakan Saat Ini: RBNZ menahan suku bunga acuan (Official Cash Rate/OCR) di level 2,25% pada akhir Mei.
- Prospek Juli: Pasar keuangan melalui perdagangan kontrak swaps kini memproyeksikan probabilitas lebih dari 70% bahwa RBNZ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Juli.
Baca Juga: Cara Beli Saham IPO SpaceX untuk Investor Ritel, Simak Panduannya Saham Sektor Logistik dan Transportasi Bertumbangan Kekhawatiran terhadap mandeknya rantai pasok global dan potensi kenaikan harga bahan bakar langsung memukul emiten-emiten yang bergantung pada jalur logistik. Beberapa saham yang mencatatkan kerugian terbesar pada perdagangan Senin pagi meliputi:
- Mainfreight: Perusahaan penyedia jasa logistik raksasa ini ambles 3,5%.
- Freightways Group: Emiten logistik dan kurir ini merosot 2%.
- Auckland International Airport: Operator bandara terbesar di Selandia Baru ini ikut tergerus 1%.