Bursa saham siap kedatangan emiten baru di 2017



JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap menyambut emiten baru. Pada Februari nanti, satu perusahaan siap mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di BEI. Satu calon emiten ini berasal dari sektor ritel.

"Nilai emisinya di atas Rp 500 miliar," ujar Direktur BEI Samsul Hidayat, Senin (3/1).

Tapi dia masih enggan membuka identitas calon emiten tersebut. Yang pasti, perusahaan ini memakai buku September 2016 sebagai dasar valuasi.


Sebelumnya, KONTAN memberitakan sedikitnya tiga perusahaan siap masuk bursa saham di awal tahun ini. Dua di antaranya adalah perusahaan yang batal IPO tahun lalu, yakni PT Anugerah Berkah Madani dan PT Forzaland. Keduanya akan menjual masing-masing 25% dan 20% saham.

Sebelumnya, Forzaland menyatakan membidik dana sebesar Rp 93,7 miliar-Rp 109,3 miliar dari publik. Selain itu, ada PT Bintraco Dharma yang sudah mendaftar IPO tahun ini. Bintraco berniat melepas 20% saham. Bintraco adalah agen penjual kendaraan roda empat yang beroperasi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Emiten-emiten tersebut menjadi bagian dari 30 emiten baru yang diundang BEI IPO tahun ini. Sebagian besar emiten yang diundang adalah anak usaha BUMN. "Sudah ada sekitar 14 anak usaha BUMN yang kami bicarakan," kata Tito Sulistio, Direktur Utama BEI.

Demi memuluskan rencana itu, BEI memberi berbagai kemudahan bagi perusahaan yang akan menggelar IPO, terutama dari sisi akses. Dulu, jika ada calon emiten dari Sumatra, ia harus datang ke Jakarta untuk memproses berkas.

Tapi ke depan, tak perlu seperti itu karena BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melebarkan jangkauannya hingga ke pelosok. Hal ini diharapkan mampu menghindari kejadian sepanjang 2016, di mana BEI hanya mampu mengundang 16 emiten baru.

Ini merupakan jumlah IPO terendah dalam tujuh tahun terakhir. Hal ini juga sempat mendapat kritik dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Menurut dia, kapitalisasi IHSG yang besar tanpa diiringi penambahan jumlah emiten, sejatinya kurang sehat.

"Hanya 16 emiten baru pada tahun 2016. Ini angka terendah dalam tujuh tahun terakhir," ungkap Sri Mulyani.

Analis Yuanta Securities Parningotan Julio menilai, ada beberapa hal yang menyebabkan perusahaan enggan mencatatkan saham perdananya di bursa saham. Dari sisi teknis, tahapan IPO dinilai masih memakan waktu Selain itu, daya beli investor juga masih dianggap relatif rendah.

"Apalagi, ada rencana kenaikan bunga The Fed hingga tiga kali pada tahun ini. Kondisi tersebut turut memperbesar kekhawatiran akan penyerapan pasar," kata Parningotan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie