Bursa Singapura Pecahkan Rekor Saat Saham Teknologi Asia Dilanda Aksi Jual



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Korea Selatan dan Taiwan kembali tertekan pada Rabu (29/7/2026) akibat kekhawatiran terhadap prospek sektor kecerdasan buatan (AI).

Sebaliknya, pasar saham Singapura justru melesat ke rekor tertinggi karena investor mengalihkan dana ke sektor yang dinilai lebih defensif.

Mengutip Reuters, indeks KOSPI Korea Selatan sempat anjlok hingga 12,6% sebelum memangkas kerugian dan ditutup melemah sekitar 6%. Sementara itu, indeks acuan Taiwan berakhir turun 3,8% ke level terendah sejak pertengahan Mei.


Baca Juga: Laba UBS Melonjak 17% pada Kuartal II-2026, Siapkan Buyback Saham US$ 3 Miliar

Dalam beberapa hari terakhir, investor terus melepas saham-saham produsen chip di Asia setelah muncul kekhawatiran mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi, meningkatnya persaingan, serta besarnya belanja investasi AI.

Kondisi ini membuat saham-saham yang sebelumnya menjadi pemenang reli teknologi tahun ini kehilangan momentum.

Selama dua hari perdagangan terakhir, pasar saham Korea Selatan telah merosot lebih dari 16%, sehingga akumulasi penurunan sepanjang Juli mencapai sekitar 33,2%. Kinerja tersebut menjadi penurunan bulanan terdalam dalam sejarah indeks KOSPI.

Volume transaksi di bursa Seoul juga relatif rendah, mengindikasikan investor masih enggan kembali masuk ke pasar.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan euforia sebelumnya ketika investor ritel berbondong-bondong memburu saham terkait AI.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Seiring Meningkatnya Ketegangan AS-Iran Pasca Serangan Rudal

Saham SK Hynix turun 9,6% ke level penutupan terendah dalam tiga bulan meski perusahaan membukukan lonjakan laba kuartalan lebih dari enam kali lipat. Hasil tersebut tetap dianggap belum memenuhi ekspektasi investor yang sangat tinggi.

Sementara itu, Samsung Electronics juga melemah 5%. Kedua emiten tersebut menyumbang lebih dari separuh kapitalisasi pasar indeks KOSPI sehingga penurunannya memberi tekanan besar terhadap indeks.

Di sisi lain, indeks FTSE Straits Times Singapura melonjak lebih dari 1% hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level 5.696,65.

Penguatan tersebut ditopang kenaikan saham perbankan utama seperti DBS Group, Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC), dan United Overseas Bank (UOB) yang masing-masing naik sekitar 1% hingga 2%.

Kepala bank sentral Singapura pada Selasa (28/7) mengatakan pertumbuhan ekonomi negara tersebut diperkirakan tetap kuat pada paruh kedua tahun ini.

Baca Juga: Laba Deutsche Bank Naik 10%, Ditopang Lonjakan Bisnis Investment Banking

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan investasi besar-besaran di sektor AI masih menjadi salah satu faktor ketidakpastian.

Sejauh tahun ini, indeks FTSE Straits Times menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik di kawasan Asia berkembang dan berpeluang mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak November 2020.

Di kawasan lain, bursa saham Filipina sempat naik hingga 2,1% dan menyentuh level tertinggi dalam sepekan.

Manajer portofolio Allspring Global Investments Gary Tan mengatakan, penguatan pasar Filipina kemungkinan mencerminkan rotasi dana dari saham-saham AI yang sudah padat kepemilikan menuju pasar yang porsinya masih relatif kecil.

Di pasar valuta asing, dolar Taiwan berhasil memangkas pelemahan awal dan bergerak stabil terhadap dolar Amerika Serikat.

Baca Juga: Apple Cetak Sejarah, Sempat Jadi Perusahaan Termahal Dunia Salip Nvidia

Sementara itu, rupiah sempat menembus level Rp 18.100 per dolar AS, setelah sebelumnya tertekan oleh pengunduran diri gubernur bank sentral Indonesia pada awal pekan ini.

Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan diumumkan Rabu waktu Amerika Serikat.

Berdasarkan harga pasar, peluang bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di kisaran 30%.

Pasar saham Thailand tutup pada Rabu karena hari libur nasional.