KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street jatuh pada Kamis (2/4/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal serangan yang lebih agresif terhadap Iran. Pidato Trump ini meredam harapan akan berakhirnya konflik Timur Tengah dengan cepat. Pada awal perdagangan, Kamis (2/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average turun 565,37 poin, atau 1,21%, menjadi 46.000,37. Indeks S&P 500 jatuh 79,70 poin, atau 1,21%, menjadi 6.495,60 dan Nasdaq Composite kehilangan 367,70 poin, atau 1,68%, menjadi 21.473,24. Dalam pidatonya, Trump mengatakan operasi militer akan diintensifkan dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Sebuah perubahan tajam dari komentar Trump sebelumnya bahwa AS akan keluar dari Iran dengan cukup cepat.
"Masalahnya adalah kita tidak mempelajari hal baru. Kita kembali ke titik di mana kita tahu lebih sedikit, bukan lebih banyak, tentang bagaimana kita menemukan jalan keluar dari perang ini," kata Art Hogan, kepala ahli strategi pasar di B Riley Wealth sepperti dikutip
Reuters.
Baca Juga: BEI Rilis 4 Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Ini Daftarnya Harga minyak melonjak sekitar 7%, membawa harga minyak mentah Brent berjangka menjadi US$ 108 per barel. Saham energi di AS naik, dengan Exxon Mobil dan Chevron masing-masing naik lebih dari 2%. Indeks energi S&P 500 bertambah 2,4%. Lonjakan harga minyak tersebut memberi tekanan pada maskapai penerbangan. United Airlines, Delta Airlines, dan American Airlines kehilangan antara 4% dan 6%. Secara terpisah, kekhawatiran kredit swasta kembali muncul setelah Blue Owl membatasi jumlah penarikan investor dari dua reksa dana yang berfokus pada ritel, menyebabkan sahamnya turun 8%. Manajer aset lainnya juga turun, dengan Apollo Global, Blackstone, dan Ares Management turun antara 3,5% dan 4,3%. Saham sektor keuangan turun 1,1%. Saham teknologi merosot 1,8%, dengan Micron, Lam Research, dan Sandisk masing-masing turun lebih dari 3%. Indeks CBOE VIX, yang merupakan indikator ketakutan Wall Street, naik menjadi 26,79 poin setelah jatuh ke level terendah dalam lebih dari seminggu pada hari Rabu. Awal pekan ini, ekspektasi pasar bahwa berakhirnya perang sudah dekat meningkatkan sentimen. Ketiga indeks Wall Street berada di jalur untuk kenaikan mingguan terbesar mereka dalam empat bulan, dan minggu pertama kenaikan dalam enam bulan.
Baca Juga: Gejolak Timur Tengah Tekan Portofolio Investasi, Investor Disarankan Diversifikasi Para pelaku pasar uang tidak lagi memperkirakan adanya pelonggaran kebijakan moneter dari Federal Reserve, menurut FedWatch Tool dari CME Group, karena kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh sektor energi telah mengaburkan prospek kebijakan moneter bank sentral. Mereka sebelumnya memperkirakan dua kali pemotongan suku bunga sebelum konflik tersebut. Angka penggajian non-pertanian pada hari Jumat akan menjadi sorotan setelah klaim pengangguran mingguan turun minggu lalu, tetapi pasar AS akan tetap tutup untuk libur Jumat Agung. Investor juga akan fokus pada perkembangan seputar SpaceX milik Elon Musk, yang secara rahasia mengajukan penawaran umum perdana (IPO) di AS pada hari Rabu, dan diperkirakan akan menargetkan valuasi US$ 1,75 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News