Butuh dana, emiten pilih private placement



JAKARTA. Sejumlah emiten gencar mencari dana untuk membiayai ekspansi. Yang terbaru adalah PT Modernland Realty Tbk (MDLN) dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS).

Kedua emiten ini memilih pendanaan melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) alias private placement. MDLN, misalnya, akan melepas 1,25 juta saham baru setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Namun, MDLN belum menentukan harga private placement.

Menurut Cuncun Wijaya, Sekretaris Perusahaan MDLN, harga belum ditentukan karena MDLN belum ada negosiasi dengan pihak manapun yang akan menyerap saham private placement tersebut. "MDLN akan mengajukan izin private placement kepada pemegang saham dengan durasi dua tahun sejak RUPSLB, 5 Juni 2014," ujar dia.


Sebelumnya, MDLN memang telah mencoba berbagai cara untuk mencari dana untuk ekspansi. "Kami sudah pernah cari dana lewat obligasi, rights issue maupun pinjaman," terang Cuncun.

Tapi cara tersebut belum sukses. Rencananya, dana private placement, akan MDLN gunakan untuk modal kerja.

Sementara, WINS akan menerbitkan 340 juta saham non HMETD setara 8,49% dari total saham. Harga private placement WINS sebesar Rp 903 per saham, sehingga, WINS bisa meraup dana Rp 307,02 miliar.

Dana hasil private placement WINS untuk menambah kapal baru dalam kurun dua tahun ke depan. Bagi manajemen WINS, private placement adalah metode pendanaan yang memungkinkan. Pasalnya, untuk meremajakan kapal dan keikutsertaan dalam tender membuat perusahaan memerlukan dana dalam waktu cepat.

Perseroan ini juga belum menentukan siapa calon investor strategis yang akan menyerap private placement WINS.

Hanya saja, sekitar 19 juta saham akan dialokasikan untuk program management and employee stock option (MESOP) III. Untuk itu, Wintermar akan meminta izin pemegang saham pada 5 Juni 2014.

Cara cepat meraup dana

Kepala Riset Ciptadana Securities Arief Budiman mengatakan, aksi private placement merupakan pilihan yang tepat jika emiten membutuhkan dana dengan jumlah yang tak terlalu banyak. Pasalnya, ada ketentuan yang membatasi nilai private placement maksimal 10% dari kapitalisasi pasar.

Selain itu, lewat private placement, dana segar pun lebih cepat diperoleh dibandingkan lewat skema HMETD alias rights issue. Sementara, opsi lain seperti obligasi atau pinjaman perbankan akan dibebani bunga tinggi. Apalagi jika emiten tak memiliki peringkat yang bagus.  

Bagi emiten, pilihan mendulang dana dari private placement memang lebih murah. Namun, sisi buruk akan terasa pada pemegang saham lama yang bakal kena efek dilusi.

Pemilik MDLN, AA Land Pte Ltd Singapore, semisal, sahamnya akan berkurang dari 28,8% menjadi 26,19%. Namun kepemilikan publik, akan meningkat dari 64,04% menjadi 67,31%.

Meski begitu, bagi Arief, jika emiten menggunakan dana private placement untuk ekspansi maka kinerja emiten akan meningkat. "Jika kinerja emiten bagus, biasanya calon investor akan antre. Apalagi, kalau ada diskon harga private placement dari harga pasar," ujar dia.           

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana