Butuh Investasi Rp 627 Triliun, PLN Andalkan Swasta untuk Bangun PLTA-PLTM 11,7 GW



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Minihidro (PLTM) akan mengandalkan keterlibatan dari pengembang listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP). Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 - 2034, penambahan kapasitas PLTA dan PLTM ditargetkan mencapai 11.689,99 Megawatt (MW) atau sekitar 11,7 Gigawatt (GW).

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) Suroso Isnandar mengungkapkan bahwa rencana penambahan kapasitas PLTA dan PLTM tersebut akan dicapai melalui pengembangan 315 proyek. Dari jumlah itu, pengembang swasta akan mengerjakan sekitar 260 proyek PLTA dan PLTM.

Suroso merinci, IPP akan menggarap 48 proyek PLTA dengan total kapasitas 9.441 MW, serta 214 proyek PLTM dengan total kapasitas 1.110,16 MW. Sedangkan PLN hanya akan membangun 7 proyek PLTA (361 MW) dan 20 proyek PLTM (51,15 MW). Sub-holding PLN akan menggarap 17 proyek PLTA (698,1 MW) dan 9 proyek PLTM (28,58 MW).


Baca Juga: FORE Bakal Kebut Ekspansi Gerai Fore Donut Usai Pabrik Dough Rampung

"Dari situ terlihat peran IPP sangat penting dalam pengembangan pembangkit hidro ini. Karena itu, PLN lebih merupakan enabler yang akan membangun jaringan-jaringan yang sesuai, yang akan bisa membawa daya dari pembangkit-pembangkit tersebut. Kita harus bisa mengubah rencana menjadi proyek yang benar-benar beroperasi," kata Suroso dalam Indonesia Hydropower Summit 2026, Rabu (5/8/2026).

Sejalan dengan besarnya keterlibatan swasta, Suroso menegaskan perlunya ekosistem investasi yang lebih menarik dan berkelanjutan. Sebab, pembangunan PLTA dan PLTM akan membutuhkan kucuran investasi yang cukup besar.

Suroso menggambarkan rata-rata kebutuhan investasi untuk membangun pembangkit listrik berbasis hidro sekitar US$ 3 juta per MW. Dengan estimasi tersebut, total kebutuhan investasi untuk menambah kapasitas 11,7 GW bisa mencapai US$ 35 miliar. Jumlah itu setara dengan Rp 627,79 triliun, apabila dikonversi memakai kurs saat ini sebesar Rp 17.937 per dolar Amerika Serikat.

Dari target penambahan kapasitas PLTA dan PLTM dalam RUPTL 2025-2034, hingga saat ini sudah ada 0,6 GW yang telah beroperasi secara komersial Commercial Operation Date (COD). Selain itu, 2,4 GW sudah masuk ke tahap konstruksi, 7,6 GW dalam proses pengadaan, serta proyek yang masih dalam kajian kelayakan sebanyak 5,3 GW.

Suroso menambahkan, PLN melakukan upaya percepatan eksekusi proyek melalui skema lelang Giga One Hydro dengan total kapasitas 7.046 MW. Skema ini diharapkan dapat mempercepat proses lelang, menekan biaya transaksi, dan bisa menarik minat investor skala besar.

PLN telah membagi bundling Giga One Hydro ke dalam enam sebaran region. Mencakup Sumatera Peaker dengan kapasitas yang ditawarkan sebanyak 1.071 MW, Sumatera Baseload (1.800 MW), Kalimantan Baseload (825 MW), Kalimantan Peaker (150 MW), Sulawesi Baseload I (1.400 MW), dan Sulawesi Baseload II (1.800 MW).

Proses lelang untuk Sumatera Peaker 1 GW sedang berjalan. Selanjutnya, PLN berencana meluncurkan lelang proyek Sumatera Baseload secara parsial, dengan penawaran 350 MW terlebih dulu, sembari menunggu pengoperasian jaringan interkoneksi Sumatera - Jawa. "Jadi silakan (investor swasta) bersiap-siap, minggu depan InsyaAllah kami iklankan Sumatera Baseload," tandas Suroso.

Baca Juga: Uji Off-Road New Hilux 2.8 4x4, Begini Kemampuan Pikap Terbaru Toyota

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News