Butuh Regulasi Berbasis Sains dalam Kebijakan Pengendalian Rokok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belum lama ini dikabarkan bahwa Selandia Baru berhasil mempercepat penurunan prevalensi merokok dengan pendekatan tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau. Pendekatan ini memungkinkan perokok dewasa untuk beralih ke produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan dan kantong nikotin.

Temuan tersebut dipaparkan dalam studi berjudul “New Zealand's accelerating smoking decline: Lessons for tobacco harm reduction” yang diterbitkan oleh The Lancet dan ditulis oleh Profesor Emeritus di Universitas Auckland, Robert Beaglehole dan Ruth Bonita, serta Pakar Kesehatan Independen, Ben Youdan.

Baca Juga: DBH Cukai Rokok 2027 Dirombak, Pemberantasan Rokok Ilegal Jadi Prioritas


Penelitian menunjukkan prevalensi merokok orang dewasa di Selandia Baru mengalami penurunan yang jauh lebih cepat sejak 2018. Angka prevalensi merokok sebelum tahun 2018 berada di sekitar 3,5 persen per tahun sebelum tahun 2018, namun pada periode 2018–2023 laju penurunannya meningkat menjadi sekitar 17,9 persen per tahun.

“Titik baliknya terjadi pada 2019 ketika penggunaan rokok elektronik (vape) mulai diadopsi secara lebih luas dan Kementerian Kesehatan Selandia Baru secara resmi mengakui bahwa rokok elektronik memiliki risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok, sekaligus mendukung penggunaannya sebagai alternatif untuk beralih dari kebiasaan merokok,” kata para peneliti dikutip Minggu (9/8/2026).

Dalam studinya, para peneliti membedakan secara jelas antara risiko pembakaran tembakau dan nikotin. Mereka menekankan bahwa penyakit akibat merokok disebabkan oleh paparan zat beracun hasil pembakaran tembakau, bukan nikotin. Oleh karena itu, penyediaan alternatif produk berbasis nikotin tanpa melalui proses pembakaran dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi dampak kesehatan bagi perokok dewasa yang belum berhasil mengurangi kebiasaan merokok.

Berdasarkan temuan tersebut, para penulis menyimpulkan strategi pengendalian rokok akan lebih efektif apabila dilengkapi dengan pendekatan pengurangan bahaya tembakau. Menurut mereka, kombinasi kedua pendekatan tersebut berpotensi mempercepat penurunan angka prevalensi merokok dibandingkan hanya mengandalkan kebijakan pengendalian secara tradisional.

"Fokus pada strategi pengurangan risiko dari tembakau yang dibakar merupakan elemen penting untuk mendukung keberlanjutan tren penurunan prevalensi merokok," tulis para peneliti.

Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo, mengatakan pengalaman Selandia Baru menunjukkan pentingnya kebijakan yang disusun berdasarkan bukti ilmiah. Menurutnya, Selandia Baru berhasil mengombinasikan kebijakan pengendalian rokok dengan strategi pengurangan bahaya tembakau yang didukung regulasi berbasis sains.

“Regulasi berbasis sains itu penting karena kebijakan kesehatan publik tidak boleh hanya dibangun atas persepsi dan opini publik. Kebijakan harus bertumpu pada data, kajian ilmiah, pemantauan pasar, dan evaluasi berkala,” ujar Bimmo, dikutip Minggu (9/8/2026).

Ariyo menjelaskan regulasi berbasis sains bukan berarti memberikan kebebasan tanpa batas. Sebaliknya, pemerintah perlu menetapkan standar yang jelas dan terukur agar setiap produk yang beredar memenuhi aspek keamanan, kualitas, dan perlindungan konsumen. “Regulasi berbasis sains berarti pemerintah perlu menetapkan standar yang terukur. Misalnya larangan penjualan pada anak,” jelasnya.

Ia menegaskan pelajaran dari Selandia Baru menunjukkan bahwa yang dibutuhkan bukanlah pelarangan total ataupun pembiaran terhadap produk tembakau alternatif, melainkan regulasi berbasis risiko. "Idealnya, yang perlu digarisbawahi adalah regulasi berbasis risiko. Jadi bukan pelarangan total, bukan pula pembiaran total,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News