KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (
BUVA) mulai merealisasikan penambahan saham dari pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Hingga pelaksanaan HMETD pada 22 Oktober 2026, perusahaan ini melaporkan penerbitan 58,19 juta saham baru, sementara sebanyak 1,87 miliar HMETD masih belum dieksekusi. Berdasarkan laporan rencana penerbitan saham, saham tambahan tersebut dijadwalkan terbit pada 26 Oktober 2026. Dengan demikian, jumlah saham BUVA meningkat dari 28,83 miliar saham menjadi 28,89 miliar saham. Secara rinci, jumlah saham baru yang berasal dari pelaksanaan HMETD mencapai 58.189.135 saham. Setelah penambahan tersebut, total saham BUVA menjadi 28.893.015.622 saham dari sebelumnya 28.834.826.487 saham.
Baca Juga: IHSG Menguat 4,9%, Nilai Transaksi Saham BEI Tembus Rp 20,34 Triliun Sehari Di sisi lain, HMETD yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetapi belum dilaksanakan masih mencapai 1.878.302.680 lembar. Angka ini menjadi bagian yang perlu dicermati dalam perkembangan aksi korporasi BUVA, mengingat perusahaan menawarkan lebih dari 6,15 miliar saham baru melalui rights issue. Dalam aksi Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) tersebut, BUVA menawarkan 6.154.263.660 saham baru dengan nilai nominal Rp 50 per saham dan harga pelaksanaan Rp 250 per saham. Jika seluruh saham terserap, perusahaan berpotensi menghimpun dana sekitar Rp 1,54 triliun. Setiap pemegang empat saham lama yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 15 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB berhak memperoleh satu HMETD. Setiap HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru.
Corporate Secretary BUVA, Rian Fahmi, sebelumnya menyampaikan bahwa dilusi kepemilikan bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mencapai sekitar 20% setelah PMHMETD II. Dalam rights issue ini, PT Nusantara Utama Investama (NUI), pemegang saham pengendali BUVA dengan kepemilikan 15.034.031.772 saham atau 61,07%, memperoleh 3.758.507.943 HMETD. Berdasarkan surat pernyataan tertanggal 21 Agustus 2026, NUI berkomitmen melaksanakan 3.474.507.943 HMETD dan mengalihkan 284 juta HMETD sisanya kepada PT Tata Tirta Datun (TTD). TTD menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang dialihkan tersebut dan memiliki dana yang cukup untuk memenuhi komitmennya. Apabila saham baru tidak seluruhnya diambil oleh pemegang HMETD, sisa saham akan terlebih dahulu dialokasikan secara proporsional kepada pemegang HMETD yang memesan saham tambahan. Jika masih terdapat sisa, empat pembeli siaga akan menyerapnya pada harga pelaksanaan yang sama, yakni Rp 250 per saham.
Baca Juga: Telkom (TLKM) Ekspansi Pusat Data AI, BRI Danareksa Targetkan Harga Saham Rp 3.500 Keempat pembeli siaga tersebut adalah Hapsoro dengan komitmen 389.038.738 saham senilai sekitar Rp 97,26 miliar, Ferry Sudjono sebanyak 1.311.216.321 saham senilai sekitar Rp 327,80 miliar, TTD sebanyak 1.606.350 saham senilai sekitar Rp 401,59 juta, serta PT Henan Putihrai Sekuritas sebanyak 400 juta saham senilai Rp 100 miliar. BUVA menargetkan dana hasil rights issue digunakan untuk modal kerja, pengembangan aset pariwisata dan perhotelan, serta pembayaran kewajiban utang. Dari total dana yang berpotensi dihimpun sekitar Rp 1,54 triliun, alokasi terbesar diarahkan untuk pengembangan bisnis di Uluwatu, Bali. Perusahaan ini mengalokasikan Rp 426,34 miliar melalui PT Bukit Bali Permai (BBP) untuk pengambilalihan saham dan pengembangan PT Royal Uluwatu Residence (RUR). Dari jumlah tersebut, Rp 199,26 miliar akan digunakan untuk mengambil alih saham RUR dengan target penyelesaian paling lambat Desember 2026. Selanjutnya, Rp 227,08 miliar akan disalurkan sebagai tambahan modal kepada RUR paling lambat kuartal IV-2027. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan lahan dan belanja modal konstruksi, termasuk infrastruktur serta sarana dan prasarana proyek West Resort di Uluwatu, yang ditargetkan selesai paling lambat kuartal IV-2029. BUVA juga menyiapkan Rp 390,34 miliar sebagai tambahan modal kepada PT Bukit Permai Properti (BKPP) untuk pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate. Proyek tersebut mencakup pembangunan jalan, galeri seni, taman alam, fasilitas olahraga, dan sarana penunjang lainnya. Pembangunan ditargetkan rampung paling lambat kuartal IV-2028. Di luar Uluwatu, perusahaan ini mengalokasikan Rp 150 miliar untuk renovasi menyeluruh hotel Alila Ubud, termasuk pembaruan interior, eksterior, dan fasilitas penunjang. Pekerjaan dilakukan bertahap dengan target penyelesaian paling lambat kuartal IV-2028. Sebesar Rp 150 miliar lainnya akan disetorkan sebagai tambahan modal kepada PT Bukit Lagoi Villa (BLV) untuk pembangunan dan pengembangan infrastruktur kawasan wisata terpadu Lagoi, Bintan. Proyek tersebut ditargetkan selesai paling lambat kuartal IV-2029.
Baca Juga: Laba Trimegah Karya Pratama (UVCR) Melonjak pada Kuartal III 2026 Sementara itu, Rp 417,80 miliar dialokasikan untuk melunasi lebih awal seluruh pokok utang BUVA berdasarkan perjanjian pembiayaan dengan PT Bank Mandiri Tbk. Adapun periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD berlangsung pada 19-30 Oktober 2026. Batas akhir pembayaran pemesanan saham tambahan ditetapkan pada 3 November 2026, penjatahan saham tambahan pada 4 November 2026, dan pengembalian uang pemesanan pada 6 November 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News