Buyback Marak di BEI Kuartal I 2026, Ini Saham Blue Chip yang Dinilai Berpotensi Cuan



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Aksi buyback atau pembelian kembali saham semakin marak di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Februari 2026, termasuk pada saham blue chip. Analis mengungkap emiten saham blue chip yang berpotensi cuan.

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di pasar modal. Saham blue chip biasanya berasal dari perusahaan dengan fundamental kuat dan memiliki nilai kapitalisasi pasar besar mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.

Berdasarkan catatan Kontan, lebih dari sepuluh emiten telah mengumumkan rencana buyback saham sejak akhir Januari 2026. Sebagian emiten menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sementara lainnya langsung mengeksekusi buyback tanpa RUPS sesuai ketentuan yang berlaku.


Salah satu saham blue chip yang akan melakukan buyback adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Emiten perbankan terbesar di Tanah Air ini mengalokasikan dana buyback hingga Rp 5 triliun untuk periode 12 bulan setelah pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026.

Tonton: 5 Tanda Terlalu Banyak Minum Air dan Dampaknya bagi Kesehatan

Selain BBCA, PT United Tractors Tbk (UNTR) juga menyiapkan dana buyback saham hingga Rp 2 triliun. Aksi buyback UNTR telah berlangsung sejak 22 Januari dan akan berakhir pada 15 April 2026.

Induk usaha UNTR, yakni PT Astra International Tbk (ASII), turut menganggarkan dana buyback senilai Rp 2 triliun. Periode pelaksanaan buyback ASII tercatat mulai 19 Januari hingga 25 Februari 2026.

Buyback Jadi Peredam Volatilitas Pasar

Head of Research KISI, Muhammad Wafi, menilai aksi buyback saham berpotensi menjadi shock absorber bagi pasar di tengah volatilitas. Menurutnya, efektivitas buyback tidak selalu ditentukan oleh besaran dana yang direalisasikan.

“Meskipun dananya tidak harus dihabiskan, dominasi emiten big caps dengan anggaran buyback besar dapat membentuk floor price yang efektif untuk menahan koreksi indeks,” ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).

Dari sudut pandang investor, Wafi menilai buyback juga merupakan sinyal fundamental yang kuat. Aksi ini mencerminkan kekuatan kas emiten sekaligus keyakinan manajemen terhadap valuasi sahamnya.

“Buyback memberi sinyal bahwa emiten memiliki kas yang memadai. Ini juga menunjukkan kepercayaan diri manajemen bahwa valuasi sahamnya masih tergolong murah,” jelasnya.

Baca Juga: Wall Street Menghijau, Investor Bersiap Hadapi Laporan Keuangan

Rekomendasi Saham dan Target Harga

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai aksi buyback layak diapresiasi investor karena dapat memperkuat kepercayaan pasar terhadap saham berfundamental solid.

“Ini penting untuk meningkatkan conviction bagi investor yang sudah melakukan akumulasi beli pada saham-saham tersebut,” katanya.

Menurut Nafan, buyback berpotensi mengembalikan harga saham ke level fundamentalnya, terutama bagi saham yang saat ini berada di bawah nilai wajar atau dalam kondisi undervalued. Selain menopang harga, buyback juga dinilai dapat meningkatkan likuiditas dan kapitalisasi pasar dalam jangka panjang.

Dari emiten yang menggelar buyback, Nafan merekomendasikan strategi accumulative buy untuk saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan target harga Rp 4.610 dan BBCA dengan target Rp 8.450. Selain itu, ia juga merekomendasikan beli saham IMPC dengan target harga Rp 2.240.

Sementara itu, pilihan saham Wafi dari emiten yang melakukan buyback antara lain BBCA dengan target harga Rp 10.200 per saham, ASII di level Rp 7.600, UNTR di Rp 28.500, serta PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dengan target Rp 520 per saham.  

Trump Naikkan Tekanan ke Harvard, Tuntut Ganti Rugi US$1 Miliar
© 2026 Konten oleh Kontan

Selanjutnya: Perjanjian Dagang dengan Amerika Serikat Sudah Siap Diteken

Menarik Dibaca: Promo A&W WednesDeal Februari: Beli 1 Gratis 1 Burger, Hemat Rp 35.000 Tiap Rabu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News