Buyout Pertama Microsoft dalam 51 Tahun, Ada Peran Satya Nadella di Baliknya



KONTAN.CO.ID - Microsoft dilaporkan tengah menyiapkan program buyout sukarela bagi karyawan. Langkah ini menjadi yang pertama dalam 51 tahun sejarah perusahaan.

Program buyout merupakan paket kompensasi yang ditawarkan perusahaan ke karyawan supaya mereka mengundurkan diri secara sukarela.

Mengutip Reuters, kebijakan ini muncul di tengah tekanan bisnis yang dihadapi raksasa teknologi tersebut. 


Mulai dari melambatnya pertumbuhan layanan cloud hingga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap strategi kecerdasan buatan (AI) perusahaan.

Baca Juga: LinkedIn Pilih Daniel Shapero sebagai CEO Baru, Ini Faktanya

Buyout Jadi Bagian Strategi Efisiensi

Program buyout ini ditujukan bagi karyawan di Amerika Serikat hingga level senior director ke bawah. Syaratnya adalah memiliki kombinasi usia dan masa kerja minimal 70 tahun.

Dalam memo internal, Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, menyebut bahwa program ini diharapkan memberi kesempatan bagi karyawan untuk menentukan langkah berikutnya dengan dukungan perusahaan.

Sejalan dengan itu, Microsoft juga melakukan sejumlah penyesuaian kebijakan internal.

Perusahaan menyederhanakan proses evaluasi manajer, mengurangi variasi skema kompensasi, serta mengubah cara distribusi saham kepada karyawan.

Baca Juga: CEO Apple Tim Cook Resmi Mundur, Investor Beri Pujian

Restrukturisasi untuk Perkuat Fokus AI

Di tengah efisiensi tersebut, Microsoft tetap agresif berinvestasi di bidang AI. Salah satu produk andalannya adalah Microsoft 365 Copilot, yang diharapkan menjadi pendorong produktivitas pengguna.

Namun, tingkat adopsi layanan ini masih relatif rendah. Dari sekitar 450 juta pengguna Microsoft 365, Copilot baru digunakan oleh sedikit di atas 3 persen.

Kondisi ini memunculkan keraguan di kalangan investor mengenai efektivitas strategi AI Microsoft, terlebih dengan ketergantungannya pada mitra seperti OpenAI.

Perusahaan juga menugaskan Mustafa Suleyman untuk lebih fokus mengembangkan model AI baru, sebuah area yang dinilai analis masih menjadi tantangan bagi Microsoft dibanding para pesaingnya.

Baca Juga: Profil John Ternus, CEO Baru Apple di Tengah Era AI

Peran Satya Nadella di Balik Strategi Efisiensi dan Buyout

Di balik berbagai perubahan tersebut, peran Satya Nadella menjadi sangat sentral.

Berdasarkan keterangan resmi Microsoft dan laporan Reuters, Nadella telah mendorong transformasi besar sejak menjabat sebagai CEO pada 2014. Salah satunya dengan mengalihkan fokus perusahaan ke layanan cloud dan kini ke kecerdasan buatan.

Dalam konteks buyout, langkah efisiensi ini dapat dilihat sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjaga organisasi tetap ramping dan kompetitif di tengah perubahan industri yang cepat.

Nadella juga memperkuat arah ini melalui investasi strategis, termasuk kemitraan dengan OpenAI, serta dengan merombak struktur organisasi agar lebih selaras dengan prioritas AI.

Pada Oktober lalu, Nadella mendelegasikan sebagian tanggung jawab pemasaran dan operasional kepada Judson Althoff, sehingga ia dapat lebih fokus pada pengembangan strategi jangka panjang di bidang AI.

Baca Juga: Prestasi John Ternus di Apple, Dari Balik Layar hingga Jadi CEO

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News