KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tesla Inc. (TSLA.O) resmi kehilangan mahkotanya sebagai produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terbesar di dunia setelah penjualan tahunan perusahaan kembali turun untuk tahun kedua berturut-turut. Posisi teratas kini direbut oleh produsen otomotif asal China, BYD Co Ltd (002594.SZ), yang untuk pertama kalinya mengungguli Tesla dalam penjualan EV tahunan secara global. Penurunan kinerja Tesla terjadi di tengah meningkatnya persaingan global, berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik di Amerika Serikat, serta munculnya sentimen negatif terhadap merek tersebut.
Padahal, secara keseluruhan penjualan kendaraan listrik global tercatat tumbuh 28% sepanjang tahun lalu, mencerminkan kuatnya permintaan pasar. Keberhasilan BYD tidak lepas dari ekspansi agresif di pasar internasional, khususnya Eropa. Di kawasan tersebut, pabrikan China itu terus memperlebar jarak penjualan dengan Tesla, seiring meningkatnya penerimaan konsumen terhadap merek EV asal Asia.
Fokus Tesla Bergeser ke Robotaxi dan AI
Sepanjang 2025, penjualan Tesla tercatat turun sekitar 8,6%. Tekanan paling besar datang dari pasar Eropa, yang menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan Tesla untuk memulihkan bisnis otomotif intinya.
Baca Juga: China Ubah Subsidi Tukar Mobil Tua, Penjualan BYD dan Produsen Lain Terancam Di saat yang sama, CEO Tesla Elon Musk justru semakin mengarahkan perusahaan ke pengembangan robotaxi, robot humanoid Optimus, dan kecerdasan buatan (AI) fisik. Kondisi tersebut tercermin pada pergerakan saham Tesla yang turun sekitar 2% pada perdagangan sore hari. Namun, sebagian investor dinilai lebih memusatkan perhatian pada visi jangka panjang Tesla ketimbang kinerja penjualan kendaraan saat ini. “Investor begitu fokus pada masa depan Tesla sehingga mengabaikan angka pengiriman kendaraan. Fokusnya ada pada Optimus, Robotaxi, dan physical AI,” ujar Dennis Dick, trader di Triple D Trading yang juga memiliki saham Tesla.
Berakhirnya Insentif Pajak EV AS Tekan Penjualan
Kinerja Tesla pada kuartal IV 2025 turut terpengaruh oleh berakhirnya kredit pajak kendaraan listrik senilai US$7.500 di Amerika Serikat. Pada kuartal sebelumnya, pengiriman sempat terdongkrak oleh lonjakan permintaan dari konsumen yang ingin mengamankan insentif tersebut sebelum dihentikan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump pada September lalu. Data J.D. Power menunjukkan, porsi EV terhadap penjualan ritel kendaraan di AS turun menjadi 6,2% pada kuartal tersebut, atau merosot 3,6 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, harga transaksi rata-rata kendaraan naik hampir US$6.000 menjadi US$53.300.
Baca Juga: Ada Kendala Baterai, BYD Kembali Tarik 88.981 Mobil Hibrid di China Tesla melaporkan pengiriman 418.227 unit kendaraan pada periode Oktober–Desember, turun 15,6% dibandingkan 495.570 unit pada tahun sebelumnya. Angka ini juga berada di bawah ekspektasi analis Visible Alpha yang memproyeksikan 434.487 unit, atau penurunan 12,3%. Secara tahunan, Tesla membukukan pengiriman 1,64 juta unit kendaraan sepanjang 2025, lebih rendah dibandingkan 1,79 juta unit pada 2024. Konsensus analis sebelumnya memperkirakan pengiriman sekitar 1,65 juta unit. Analis ekuitas senior Morningstar, Seth Goldstein, menilai penurunan ini bukanlah kejutan besar. Pasar, menurutnya, telah memperhitungkan melemahnya permintaan sejak insentif pajak EV di AS dihentikan. Di luar bisnis otomotif, Tesla mencatat kinerja positif di segmen energi. Perusahaan mengungkapkan telah memasang produk penyimpanan energi sebesar 14,2 gigawatt-hour (GWh) sepanjang tahun, menjadi rekor tertinggi. Tesla dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal IV pada 28 Januari mendatang.
Persaingan Makin Ketat di Amerika Utara dan Eropa
Tekanan terhadap Tesla semakin besar seiring meningkatnya persaingan dari produsen China dan Eropa, seperti BYD, Volkswagen (VOWG.DE), dan BMW (BMWG.DE). Kondisi ini secara langsung menggerus momentum penjualan Tesla di berbagai pasar utama. Registrasi kendaraan Tesla tercatat menurun di sebagian besar negara Eropa pada Desember, meskipun mengalami lonjakan di Norwegia. Namun secara keseluruhan, pangsa pasar Tesla di kawasan Eropa menyusut sepanjang 2025.
Baca Juga: Penjualan Tesla di Eropa Terus Merosot, Sementara BYD dan Produsen China Lain Melesat Sebaliknya, BYD melaporkan penjualan di luar China mencapai rekor 1 juta unit kendaraan pada 2025, melonjak sekitar 150% dibandingkan 2024. Perusahaan menargetkan penjualan hingga 1,6 juta unit di luar China pada 2026, meski belum mengungkap target penjualan global secara keseluruhan. Untuk mempertahankan volume penjualan, Tesla pada Oktober lalu meluncurkan versi “Standard” dari Model Y dan Model 3 dengan harga sekitar US$5.000 lebih murah dibandingkan model dasar sebelumnya. Langkah ini ditujukan untuk mengompensasi hilangnya insentif pajak di AS serta menarik konsumen Eropa yang lebih sensitif terhadap harga.
Namun, strategi tersebut justru mengecewakan sebagian investor yang berharap pemangkasan harga lebih agresif atau kehadiran produk massal baru yang benar-benar berbeda. Meski penjualan kendaraan melemah, saham Tesla justru mencatat kenaikan sekitar 11,4% sepanjang 2025, yang turut mendongkrak kekayaan Elon Musk. Kondisi ini menegaskan bahwa pasar masih menaruh harapan besar pada transformasi Tesla sebagai perusahaan teknologi dan AI, bukan semata produsen mobil listrik.