ByteDance Lepas Kendali TikTok AS, Mayoritas Kini Milik Investor Amerika



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. ByteDance, perusahaan asal China pemilik TikTok, pada Kamis (22/1/2026) mengumumkan telah merampungkan kesepakatan pembentukan perusahaan patungan (joint venture/JV) yang mayoritas dimiliki investor Amerika Serikat.

Langkah ini ditempuh untuk mengamankan data pengguna di AS sekaligus menghindari ancaman pelarangan aplikasi video pendek tersebut di pasar Amerika.

Kesepakatan ini menjadi tonggak penting bagi TikTok setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan politik dan regulasi di AS yang dimulai sejak Agustus 2020, ketika Presiden Donald Trump mencoba melarang aplikasi tersebut dengan alasan keamanan nasional.


Pada April 2024, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang mewajibkan ByteDance melepas aset TikTok di AS sebelum Januari tahun berikutnya atau menghadapi larangan operasi.

Ketentuan tersebut kemudian dikuatkan Mahkamah Agung AS. Namun, Trump memilih untuk tidak menegakkan larangan tersebut setelah tercapainya kesepakatan divestasi.

Baca Juga: TikTok Selamat dari Ancaman Ban, ByteDance Setuju Bentuk Joint Venture AS

Dalam pernyataannya, ByteDance menyebut entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC akan bertanggung jawab mengamankan data pengguna, aplikasi, serta algoritma TikTok di AS melalui sistem perlindungan data dan keamanan siber. Perusahaan tidak mengungkap detail teknis divestasi secara lengkap.

Presiden Trump menyambut baik kesepakatan ini melalui unggahan media sosial, menyatakan bahwa TikTok kini akan dimiliki oleh “kelompok patriot dan investor besar Amerika.” Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden China Xi Jinping atas persetujuannya terhadap kesepakatan tersebut.

Struktur Kepemilikan

Berdasarkan skema yang disepakati, investor Amerika dan global akan memegang 80,1% saham joint venture tersebut, sementara ByteDance mempertahankan kepemilikan 19,9%.

Tiga investor pengelola utama JV masing-masing memegang 15%, yakni:

  • Oracle (perusahaan komputasi awan)

  • Silver Lake (firma private equity)

  • MGX (perusahaan investasi berbasis di Abu Dhabi)

Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan kepada Reuters bahwa pemerintah AS dan China telah memberikan persetujuan atas kesepakatan ini.

Selain itu, sejumlah investor lain juga terlibat, antara lain Dell Family Office milik pendiri Dell Technologies Michael Dell, Vastmere Strategic Investments, Alpha Wave Partners, Revolution, Merritt Way, Via Nova, Virgo LI, dan NJJ Capital.

Pengamanan Data dan Algoritma

TikTok menyatakan bahwa algoritma rekomendasi kontennya akan dilatih ulang, diuji, dan diperbarui menggunakan data pengguna AS. Algoritma tersebut akan diamankan di infrastruktur cloud Oracle di wilayah AS.

Sebelumnya, laporan Reuters pada September menyebut ByteDance akan tetap memiliki operasi bisnis TikTok di AS, namun menyerahkan kendali data pengguna, konten, dan algoritma kepada joint venture.

Baca Juga: TikTok Selamat dari Penutupan di Kanada, Setidaknya untuk Saat Ini

Sementara itu, unit terpisah yang sepenuhnya dimiliki ByteDance tetap akan mengelola bisnis yang menghasilkan pendapatan seperti iklan dan e-commerce.

Joint venture baru ini akan berperan sebagai tulang punggung operasional teknologi dan data untuk TikTok di AS, serta menerima bagian pendapatan atas layanan teknologi dan data yang diberikan.

Susunan Manajemen

Dua mantan eksekutif TikTok USDS ditunjuk memimpin entitas baru ini, yakni Adam Presser sebagai CEO dan Will Farrell sebagai Chief Security Officer. Sementara itu, CEO TikTok global Shou Chew juga masuk dalam jajaran dewan direksi joint venture.

Trump, yang memiliki lebih dari 16 juta pengikut di akun TikTok pribadinya, sebelumnya menyebut aplikasi tersebut berperan dalam kemenangannya pada pemilu. Gedung Putih juga meluncurkan akun resmi TikTok pada Agustus lalu.

Langkah pembentukan joint venture ini dinilai menjadi solusi kompromi antara kepentingan keamanan nasional AS dan keberlanjutan operasional TikTok yang digunakan lebih dari 200 juta warga Amerika.

Selanjutnya: Rupiah Rebound pada Akhir Pekan, Pekan Depan Masih Dibayangi Tekanan Global

Menarik Dibaca: Berlangsung hingga 25 Januari, Ini Berbagai Penawaran di HSBC ANA Travel Fair 2026