C-Drama Mendunia: Demam Drama China Mengguncang Asia Tenggara



KONTAN.CO.ID - Nadhiroh Napri, 27 tahun, seorang penggemar C-drama asal Malaysia, pertama kali jatuh cinta pada genre ini lewat drama populer The Princess Weiyoung (2016).

Cerita tentang seorang permaisuri muda yang menuntut keadilan setelah kerajaannya hancur membuat Nadhiroh begitu terpikat hingga ia mulai belajar bahasa Mandarin dan berencana mengunjungi China.

"Saya sangat menyukainya. Bahkan saya sampai melewatkan tugas sekolah karena sibuk menonton," ujarnya dilansir dari laman Channesnewsasia pada Selasa (13/1/2026).


Baca Juga: Tak Direspons, Paramount Menyerang: Drama Tawaran Besar Warner Bros Memanas

Sementara itu, Cheryl Goh, 27 tahun dari Singapura, menyukai C-drama romantis seperti Till the End of the Moon (2023) yang dibintangi idola favoritnya, Luo Yunxi.

"Selebriti China menjadi daya tarik besar. Setelah menonton, saya mulai menyukai mereka dan ingin mengikuti karya mereka," kata Cheryl.

Ia menambahkan bahwa C-drama sering lebih mudah dipahami dibanding drama Korea atau Jepang, karena tidak ada hambatan bahasa dan menampilkan unsur budaya tradisional China, permainan kata, serta perayaan khas.

C-Drama sebagai Alat Diplomasi Budaya

China memanfaatkan teknologi AI, media sosial seperti TikTok dan Xiaohongshu, animasi, serta permainan populer untuk meningkatkan soft power.

Strategi ini membantu Beijing membentuk persepsi regional, meski ketegangan politik masih ada.

Baca Juga: Malaysia Salip Thailand sebagai Negara Paling Banyak Dikunjungi Wisatawan di ASEAN

C-drama, dengan campuran sejarah, budaya, bahasa, dan nilai-nilai China, telah menjadi ekspor budaya penting.

Drama ini populer karena menampilkan kisah romantis dan sejarah, yang mudah diterima penonton baru di Asia Tenggara.

Gwendolyn Yap dari ISEAS Yusof-Ishak Institute di Singapura menilai bahwa ketenaran drama China terinspirasi dari nostalgia penonton yang sebelumnya terbiasa dengan drama Hong Kong dan Taiwan.

Drama seperti Meteor Garden (2001) bahkan meluncurkan karier aktor dan membentuk budaya pop regional.

Tran Hoang Bao Chau dari Ho Chi Minh City menambahkan bahwa C-drama seperti Wild Bloom (2022) menggambarkan perjuangan pengusaha China pada 1990-an, membuat penonton merasa terhubung dengan karakter dan cerita yang realistis.

Sheng Zou, akademisi dari Hong Kong Baptist University, menekankan bahwa kekuatan soft power C-drama terletak pada cerita yang kuat, karakter menarik, dan estetika yang memikat. Contohnya, animasi Ne Zha 2 dan game Genshin Impact sukses besar di pasar global.

Baca Juga: Trump Diminta Tahan Serangan ke Iran, Wapres Vance Ajukan Opsi Damai

C-Drama dan Industri Streaming

Pertumbuhan C-drama juga mendorong kesuksesan platform streaming China. Thailand menjadi pasar utama, diikuti Vietnam dan Indonesia.

iQiyi melaporkan bahwa drama China kini menunjukkan tren menyalip drama Korea di wilayah Asia Tenggara.

Tencent memilih Thailand sebagai lokasi syuting Chuang Asia, reality show kompetisi idola, memungkinkan perusahaan melewati regulasi domestik China sekaligus membuka pasar internasional.

Namun, tantangan tetap ada. Yap menekankan bahwa hiburan China harus disesuaikan dengan keberagaman teknologi dan preferensi lokal di Asia Tenggara agar bisa diterima penonton.

Baca Juga: Nvidia Tegaskan Tak Wajibkan Pembayaran di Muka untuk Chip H200

Wisata C-Drama dan Pengalaman Budaya

Minat terhadap C-drama juga mendorong fenomena wisata budaya. Penggemar dari Asia Tenggara mengunjungi lokasi syuting di China, seperti Hengdian World Studios di Zhejiang, mengenakan hanfu untuk merasakan pengalaman “hidup di drama”.

Chongqing menarik perhatian penggemar drama karena aktor populer Xiao Zhan lahir di sana dan beberapa drama romantis difilmkan di kota ini.

Selain itu, Xiatianxia Tourist Area di Fujian memungkinkan wisatawan merasakan pengalaman wuxia ala C-drama.

Desirae Tan dari Singapura mengaku C-drama menjadi alasan utama kunjungannya ke China: "Saya ingin hidup dalam dunia C-drama saya sendiri. Hanfu wajib untuk foto dan video pengalaman saya."

Baca Juga: Skandal Renovasi US$2,5 Miliar: Benarkah Hanya Dalih Jegal Ketua The Fed Powell?

Soft Power, Bukan Propaganda Politik

Meski C-drama dan produk budaya China populer, pengaruhnya terhadap persepsi politik penonton tidak selalu signifikan.

Survei ISEAS menemukan tingkat kepercayaan terhadap China masih terpecah, terutama di negara seperti Myanmar, Indonesia, Vietnam, dan Filipina.

Nadhiroh juga menilai, hiburan China lebih meningkatkan minat budaya daripada mengubah pandangan politik.

Ia memperhatikan tren propaganda atau patriotisme dalam C-drama terbaru, tetapi hal ini tidak terlalu memengaruhi pandangan pribadinya.

C-drama dan ekspor budaya China telah berhasil menarik hati penonton Asia Tenggara, mendorong pariwisata budaya, dan memperkuat soft power Beijing.

Meski begitu, pengaruh politik dan persepsi terhadap China tetap kompleks dan tidak mudah diubah hanya melalui hiburan.

Selanjutnya: Emas Kian Bersinar di Tengah Gejolak Global, WGC: Fondasi Masih Kuat di 2026

Menarik Dibaca: 5 Beasiswa Luar Negeri Tanpa IELTS, Yuk Kuliah Gratis di Jerman hingga Korea