Cadangan Emas Capai 3.600 Ton, Produksi Semester I-2026 Baru Tembus 17 Ton



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia mencatatkan potensi komoditas emas yang cukup melimpah dengan total cadangan mencapai 3.600 ton. Kendati memiliki persediaan yang besar di dalam bumi, realisasi produksi emas nasional sepanjang paruh pertama tahun ini masih terbilang sangat mini dan diwarnai oleh indikasi adanya kebocoran penjualan ilegal di lapangan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno mengungkapkan, rata-rata produksi emas Indonesia sejatinya berada di kisaran 100 ton per tahun. Namun, pencapaian produksi dalam beberapa periode terakhir cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan kapasitas riil yang dimiliki oleh negara.

"Ya betul bahwa emas kita memiliki cadangan kira-kira 3,6 ribu ton untuk Indonesia. Untuk cadangan emasnya 3,6 ribu ton. Terus kemudian kita produksi itu rata-rata di angka 100 ton per tahun. Tapi untuk tahun kemarin memang hanya 76 ton," ujarnya dalam acara MINDialogue di Jakarta, Rabu (12/8/2026).


Tri menjelaskan bahwa sepanjang semester pertama 2026, volume produksi emas nasional tercatat baru menyentuh belasan ton. Rendahnya angka pendaftaran produksi resmi tersebut mengindikasikan adanya celah penyerapan dan perdagangan komoditas emas yang mengalir keluar melalui jalur non prosedural.

Baca Juga: Punya Potensi 3.600 Ton, Cadangan Emas Bank Indonesia Hanya 87,1 Ton

"Untuk saat ini sampai dengan semester I-2026, itu produksi kita hanya sekitar 17 ton. Jadi memang ada beberapa catatan untuk emas yang mungkin teridentifikasi ada beberapa penjualan dalam tanda petik "legal" itu," jelasnya.

Tri menyoroti pola pemanfaatan emas di Indonesia yang masih didominasi oleh sektor konsumsi ketimbang sebagai aset cadangan devisa. Kondisi ini terbalik jika dibandingkan dengan struktur konsumsi di pasar global yang mayoritas mengalokasikan emas sebagai instrumen penguat devisa negara.

"Sebetulnya secara spesifik kalau emas itu kan di beberapa negara, yang ini kan sekitar 30% untuk perhiasan, 70% untuk cadangan devisa. Tapi untuk Indonesia kan sekitar 60% untuk perhiasan, 40% untuk tabungan atau cadangan devisa," terangnya.

Baca Juga: Penurunan Harga Emas Perhiasan Tahan Laju Inflasi April 2026

Di sisi lain, Tri menilai bahwa pergerakan harga emas internasional sangat sensitif terhadap aksi pelepasan cadangan devisa oleh negara-negara besar di dunia. Kendati demikian, tren harga acuan emas di pasar global saat ini dinilai masih bertahan pada level yang sangat tinggi.

"Poinnya memang untuk emas ini memang menarik untuk perdagangan, baik itu di dunia maupun di Indonesia. Untuk di dunia emas itu apabila akan mengalami kenaikan dan penurunan, apabila suatu negara akan melepas cadangan devisanya, otomatis nanti harga akan sedikit terkoreksi gitu. Tapi kalau sekarang angka pasti yang bisa dipastikan di atas US$ 4.000/troy," pungkasnya.

Baca Juga: Prabowo Dapat Laporan Penemuan Emas dan Mineral Jumlah Besar di Pegunungan Papua

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News