Cadangan Nikel Tinggal 9 Tahun, Moratorium Smelter Pirometalurgi Perlu Direalisasikan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembatasan pembangunan smelter nikel baru berteknologi pirometalurgi yang memproduksi bahan setengah jadi dinilai sebagai langkah yang tepat meski terbilang terlambat.

Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli menyebutkan pembatasan ini sangat mendesak guna menekan dampak kelebihan pasokan (oversupply) nikel di pasar global.

Kelebihan pasokan nikel yang saat ini diperkirakan mencapai 2,5 juta ton telah memicu penurunan harga nikel global secara signifikan di pasar internasional. Di sisi lain, laju konsumsi bijih nikel saprolit berkadar tinggi yang diproses melalui teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dikhawatirkan dapat menguras habis cadangan nikel nasional dalam waktu singkat.


Baca Juga: Bank of America Ungkap Investasi Data Center di Indonesia Banyak dari Modal Asing

"Perhapi sudah memberikan masukan tentang moratorium smelter RKEF ini sejak tahun 2022 yang lalu mengingat masifnya investasi di bidang Pembangunan smelter ini," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (9/10/2026).

Rizal membeberkan, data Badan Geologi tahun 2025 mencatat total cadangan nikel Indonesia mencapai 5,3 miliar ton, di mana 3,1 miliar ton di antaranya merupakan jenis saprolit.

Menurutnya, jika seluruh kapasitas smelter pirometalurgi yang telah dibangun dan yang akan selesai dibangun beroperasi penuh, kebutuhan bijih berpotensi mencapai 300 hingga 400 juta ton per tahun, umur cadangan saprolit diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 9 tahun saja.

"Dengan pengetatan quota produksi ini memang akan banyak smelter yang harus dirasionalisasikan atau di-standby-kan karena kekurangan supply nickel ore-nya," tegasnya.

Untuk menutupi potensi celah kekurangan pasokan bijih nikel, beberapa pelaku industri sejatinya dapat mengambil opsi impor bahan baku dari negara produsen lain seperti Filipina dan Kaledonia Baru. Namun, Rizal menuturkan, pasokan dari negara tetangga seperti Filipina juga cukup terbatas mengingat produksi tahunan mereka yang hanya berkisar di angka 50 juta ton per tahun.

Baca Juga: Modernland Realty (MDLN) Tuntaskan Obligasi US$ 280 Juta Lewat Solusi Tukar Lahan

"Dengan moratorium ini tentu akan membantu mempertahankan laju pengurangan cadangan nikel (depletion). Sebaiknya smelter yang belum di mulai konstruksinya atau masih dalam tahapan perencanaan dibatalkan saja," ungkapnya.

Lebih lanjut, Rizal mengingatkan, pemerintah dapat mengambil pelajaran dari kondisi industri nikel saat ini untuk diterapkan pada komoditas tambang lain yang tengah didorong hilirisasinya. 

Ia menyarankan agar program hilirisasi komoditas bauksit juga dapat dikaji lebih mendalam dan terukur agar tidak mengulangi persoalan kelebihan kapasitas produksi serta ancaman penipisan cadangan layaknya di sektor nikel.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan, sebagian besar smelter nikel di tanah air saat ini masih memproduksi bahan setengah jadi sekitar 50% hingga 60%.

Sementara itu, kondisi pasokan global saat ini diperkirakan telah melampaui kebutuhan pasar hingga menyentuh angka 2,5 juta ton. Menurutnya, ini menyebabkan oversupply sehingga menyebabkan harga nikel agak jatuh.

Baca Juga: Menakar Daya Tahan Rumah Menengah Atas, Tangerang Jadi Tumpuan

"Kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium, sementara yang kita dorong adalah industri-industri yang produk hilirnya langsung," ujarnya usai acara Investor Daily Summit 2026, Jakarta, Selasa (7/10/2026).

Untuk diketahui, berdasarkan PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, menyebutkan adanya pembatasan investasi baru untuk pembangunan pabrik pemurnian atau smelter nikel melalui Izin Usaha Industri (IUI).

PP ini secara khusus menargetkan perusahaan-perusahaan pengolahan nikel baru yang memproduksi produk antara (intermediate) nikel, baik yang menggunakan metode pirometalurgi (teknologi RKEF) maupun hidrometalurgi (teknologi HPAL).

Asal tahu saja, produk antara nikel di antaranya adalah nickel matte, mixed hydroxide precipotate (MHP), feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News