LONDON. Harga kontrak minyak dunia diperdagangkan mendekati level tertinggi sejak Mei lalu. Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, pada pukul 09.32 waktu London, harga kontrak minyak untuk pengantaran September naik 5 sen menjadi US$ 94,38 per barel di New York Mercantile Exchange. Sebelumnya, kontrak yang sama sempat naik 0,3%. Sedangkan kemarin (15/8), harga kontrak minyak ditutup pada posisi US$ 94,33 sebarel, yang merupakan level tertinggi sejak 14 Mei lalu. Meski demikian, jika dihitung, harga minyak masih turun 4,6% di sepanjang tahun ini. Sejumlah sentimen disinyalir mempengaruhi harga minyak. Salah satunya, cadangan minyak AS yang melorot ke level terendah dalam empat bulan terakhir. Sentimen lainnya adalah, sinyal dari pemerintah China untuk melonggarkan kebijakan dengan tujuan menggairahkan kembali perekonomian mereka."Faktor utama penggerak harga minyak adalah data cadangan minyak AS serta adanya ekspektasi akan stimulus China, Eropa, dan AS," papar Victor Shum, managing director IHS Consulting di Singapura. Dia menambahkan, pernyataan Israel yang akan menyerang Iran juga sedikit banyak berpengaruh terhadap harga minyak. Catatan saja, data Departemen Energi AS menunjukkan, cadangan minyak AS melorot ke posisi 366,2 jura barel. Sedangkan analis yang disurvei Bloomberg meramal penurunan cadangan minyak sebanyak 1,5 juta barel. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cadangan terpapas, harga minyak kembali mendaki
LONDON. Harga kontrak minyak dunia diperdagangkan mendekati level tertinggi sejak Mei lalu. Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, pada pukul 09.32 waktu London, harga kontrak minyak untuk pengantaran September naik 5 sen menjadi US$ 94,38 per barel di New York Mercantile Exchange. Sebelumnya, kontrak yang sama sempat naik 0,3%. Sedangkan kemarin (15/8), harga kontrak minyak ditutup pada posisi US$ 94,33 sebarel, yang merupakan level tertinggi sejak 14 Mei lalu. Meski demikian, jika dihitung, harga minyak masih turun 4,6% di sepanjang tahun ini. Sejumlah sentimen disinyalir mempengaruhi harga minyak. Salah satunya, cadangan minyak AS yang melorot ke level terendah dalam empat bulan terakhir. Sentimen lainnya adalah, sinyal dari pemerintah China untuk melonggarkan kebijakan dengan tujuan menggairahkan kembali perekonomian mereka."Faktor utama penggerak harga minyak adalah data cadangan minyak AS serta adanya ekspektasi akan stimulus China, Eropa, dan AS," papar Victor Shum, managing director IHS Consulting di Singapura. Dia menambahkan, pernyataan Israel yang akan menyerang Iran juga sedikit banyak berpengaruh terhadap harga minyak. Catatan saja, data Departemen Energi AS menunjukkan, cadangan minyak AS melorot ke posisi 366,2 jura barel. Sedangkan analis yang disurvei Bloomberg meramal penurunan cadangan minyak sebanyak 1,5 juta barel. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News