Cahayasakti (CSIS) Genjot Kawasan Industri Cikembar & Tenjojaya Hills, Ini Prospeknya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) tengah menyiapkan babak baru pertumbuhan dengan mengandalkan Kawasan Industri Cikembar di Sukabumi, Jawa Barat.

Tim Riset UOB Kay Hian Sekuritas dalam riset pada 10 Agustus 2026 melihat langkah CSIS mereplikasi kesuksesan Kawasan Industri Sentul sebagai peluang pertumbuhan yang menarik. Jika kawasan industri Sentul telah mencapai tingkat okupansi sekitar 99%, Cikembar masih berada pada tahap awal dengan okupansi hanya 15%.

Kondisi tersebut memberikan ruang ekspansi yang besar bagi CSIS, terlebih perusahaan ini memiliki lahan sekitar 220 hektare di kawasan tersebut.


Baca Juga: Cahayasakti (CSIS) Bikin Anak Usaha Baru, Jalankan Bisnis Pariwisata dan Real Estate

Tim riset UOB Kay Hian menilai Cikembar berpotensi menjadi salah satu penggerak utama kinerja CSIS ke depan. Perusahaan ini menargetkan marketing sales Cikembar mencapai Rp 120 miliar pada 2026, tumbuh 54% dibandingkan Rp 78,1 miliar pada 2025.

Menurut Tim Riset UOB Kay Hian Sekuritas, salah satu keunggulan Cikembar adalah fleksibilitas monetisasi. Dengan status sebagai Kawasan Berikat, CSIS dapat menawarkan berbagai skema kepada calon penghuni, mulai dari penjualan lahan, leasing, hingga rent-to-own.

Skema tersebut menyasar berbagai sektor, termasuk manufaktur, logistik dan pergudangan.

Daya tarik Cikembar juga semakin kuat karena harga lahannya relatif kompetitif. Harga kavling rata-rata pada 2026 mencapai sekitar Rp 1,5 juta per meter persegi, naik 20% YoY dari Rp 1,25 juta per meter persegi pada 2025.

Sejak 2020, harga kavling tersebut mencatat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sekitar 16,5%.

Harga lahan di kawasan tersebut secara umum berada pada kisaran Rp 1,1 juta-Rp 2 juta per meter persegi, sehingga masih kompetitif dibandingkan kawasan industri utama di sekitar Jakarta.

Keunggulan lain Cikembar adalah struktur biaya operasional yang relatif rendah.

Baca Juga: Bursa Mineral & Komoditas Strategis Bakal Meluncur, Cek Dampaknya ke Emiten Komoditas

Upah minimum Kabupaten Sukabumi berada di sekitar Rp 3,8 juta, atau sekitar 35% lebih rendah dibandingkan Cikarang dan 33% lebih rendah dibandingkan Jakarta.

Kombinasi harga lahan dan biaya tenaga kerja yang lebih kompetitif berpotensi menjadi daya tarik bagi perusahaan yang ingin melakukan ekspansi maupun relokasi fasilitas produksi.

Dari sisi konektivitas, prospek Cikembar juga berpotensi semakin kuat dengan rencana perpanjangan Tol Bocimi yang ditargetkan pada 2026 serta pembangunan Jagoratu Toll Exit yang ditargetkan pada 2028.

CSIS juga telah menyiapkan pendanaan untuk mempercepat pengembangan kawasan.

Dana rights issue sekitar Rp 198 miliar akan digunakan untuk menyelesaikan infrastruktur Cikembar sekaligus mendukung rencana penambahan landbank sekitar 80 hektare.

Dengan okupansi yang masih rendah, UOB Kay Hian melihat Cikembar memiliki ruang yang cukup panjang untuk meningkatkan penjualan dan tingkat hunian kawasan.

Potensi tersebut sebenarnya mulai terlihat dalam laporan keuangan CSIS.

Pada kuartal I-2026, pendapatan CSIS melonjak 263% YoY menjadi Rp 38,4 miliar. Lebih mengejutkan lagi, laba bersih melesat 5.557% YoY menjadi Rp 10,9 miliar.

Menurut riset UOB KayHian, kawasan Industri Cikembar menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 91,3% dari total pendapatan kuartal I-2026.

Baca Juga: BUMI Tak Lagi Andalkan Batubara Ekspansi ke Emas, Ini Rekomendasi Samuel Sekuritas

Lonjakan kontribusi tersebut ikut mengerek gross margin menjadi 80,3% dan operating margin menjadi 60,8%.

Artinya, monetisasi Cikembar tidak hanya memberikan pertumbuhan pendapatan, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap profitabilitas CSIS.

Di pasar saham, CSIS memiliki harga sekitar Rp 200 per saham dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 362 miliar. Pada Jumat (14/8/2026), harga saham CSIS naik 7,92% di Rp 218 per saham dan sebulan telah naik 23,16%. 

Berdasarkan annualisasi kinerja kuartal I-2026, saham CSIS diperdagangkan pada PE 2026E sekitar 8,3 kali.

Valuasi tersebut masih berada di bawah rata-rata PE emiten kawasan industri di Bursa Efek Indonesia yang mencapai sekitar 14,8 kali.

Sebagai pembanding, SSIA memiliki PE 21,7 kali, sedangkan DMAS dan BEST masing-masing berada di sekitar 7,8 kali dan 7,9 kali berdasarkan proyeksi 2027.

Secara teknikal, Tim Riset UOB Kay Hian juga melihat peluang rebound CSIS menuju area resistensi Rp 220-Rp 258. CSIS sedang melakukan rebound ringan dalam struktur bearish.

"Rebound diperkirakan dapat menutup gap down yang terjadi pada bulan Februari 2026 di harga Rp 220. Penembusan level resistance ini diperkirakan dapat memicu rebound lanjutan menuju level resistance berikutnya di Rp 258 yang juga mendekati level fibo 38%,” tulis tim riset UOB KayHian. 

Dia menambahkan pergerakan indikator RSI mingguan dan stochastic juga terlihat positif dan berada diteritori bullish atau positif. Entry ideal berada di harga sekitaran Rp 195-Rp 200 dengan target keuntungan berada di level Rp 258.

Menariknya, strategi pertumbuhan CSIS tidak berhenti di Cikembar. Perusahaan ini juga menyiapkan Tenjojaya Hills, proyek seluas 400 hektare di Sukabumi, sebagai sumber pendapatan berulang jangka panjang.

Baca Juga: Fast Food (FAST) Raih Kenaikan Penjualan 16,1% pada Semester I-2026, Rugi Menyusut

Proyek tersebut mengusung konsep Integrated Agricultural-Based Healing Haven yang memadukan Climate Smart Agriculture (CSA), Controlled Environment Agriculture (CEA), healing & wellness, senior living, eco-homes, serta agrowisata.

Selain itu, CSIS memanfaatkan kekuatan induknya, Olympic Group, yang telah menjadi produsen furnitur knock-downsejak 1983, untuk mengembangkan bisnis Technohome.

Bisnis tersebut mengusung konsep properti modular yang dapat digunakan untuk hunian, gudang hingga bioskop modular atau Techno Theatre.

Keunggulan yang ditawarkan adalah waktu pembangunan yang jauh lebih cepat. Unit residensial diperkirakan dapat dirakit sekitar tiga hari, sedangkan gudang komersial sekitar 10 hari.

Dengan demikian, menurut Tim Riset UOB Kay Hian Sekuritas, cerita pertumbuhan CSIS bukan hanya soal menjual lahan industri. Cikembar menjadi mesin pertumbuhan jangka menengah, sementara Tenjojaya Hills dan Technohome berpotensi membuka sumber pendapatan baru dalam jangka panjang.

Ruang pertumbuhan Cikembar yang masih sangat besar, peningkatan profitabilitas, serta valuasi yang relatif rendah menjadi faktor yang membuat CSIS menarik untuk dicermati investor.

Baca Juga: Prospek Emiten Ekosistem Kendaraan Listrik Masih Positif Semester II-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News