Calon Bos OJK Diumumkan, Bagaimana Potensinya?



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah dipastikan terisi. Sejumlah nama dari institusi terkait muncul, tetapi ada kekhawatiran tentang kapasitas calon menghadapi berbagai gejolak yang ada saat ini. 

Panitia Seleksi (Pansel) Pemilihan Calon Pengganti ADK OJK telah mengumumkan 20 nama pendaftar yang lolos seleksi administrasi. Dalam daftar itu, sejumlah nama tak asing muncul, termasuk Friderica Widyasari Dewi dan Hasan Fawzi, yang masing-masing tengah menjabat Pejabat Sementara (Pjs) Ketua DK OJK dan Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK. 

Selain mereka, pejabat OJK lainnya juga mendominasi daftar, yakni Bambang Mukti Riyadi dan Darmansyah yang sama-sama mengemban jabatan Deputi Komisioner OJK, serta Hernawan Bekti Sasongko dan Hidayat Prabowo yang pernah masuk dalam pencalonan ADK OJK untuk periode 2022-2027. Pejabat purnabakti OJK Lasmaida Gultom yang juga pernah menjadi calon ADK OJK untuk periode 2022-2027 pun masuk dalam daftar.


Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Jasindo Pastikan Klaim Asuransi Perjalanan Tetap Terjaga

Ada pula dua nama dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias Danantara, yakni Komisaris Independen Danantara Asset Management (DAM) Agus Sugiarto dan Komisaris Utama Danantara Investment Management (DIM) Pahala Nugraha. 

Pejabat-pejabat berpengalaman di Kementerian Keuangan turut muncul, yakni Adi Budiarso dan Bobby Wahyu Hermawan yang telah berkarier lebih dari 20 tahun di lembaga tersebut. 

Dari Bank Indonesia (BI), ada tiga nama yang muncul. Mereka adalah Anton Daryono, Dicky Kartikoyono yang sudah dua kali menjadi Calon Deputi Gubernur BI, dan Iskandar Simorangkir yang malah sudah pernah lolos tahap wawancara sebagai calon Ketua DK OJK 2022-2027.

Kemudian, dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ada dua nama, yakni Ary Zulfikar dan Danu Febrianto yang juga sudah pernah mencalonkan diri sebagai DK LPS bersama mantan Ketua LPS Purbaya Yudhi Sadewa.

Selain dari jajaran pejabat, terpantau masuk pula sejumlah komisaris perusahaan swasta, yakni Komisaris Utama BPRS HIK Parahyangan Dhani Gunawan Idat yang pernah menjadi calon anggota Badan Supervisi OJK, serta Komisaris Utama PT RJL Maritime Logistics Orias Petrus Moedak.

Meski nama-nama dalam daftar ini telah memiliki sepak terjangnya masing-masing, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai tak ada unsur kebaruan yang mampu menggerakkan status quo OJK saat ini.

Menurutnya, saat ini OJK membutuhkan sosok profesional baru dari industri dengan wawasan mumpuni yang bebas dari intervensi politik. Bhima menaruh mantan Ketua DK OJK Mahendra Siregar sebagai patokan. “Kaliber ketua OJK harus lebih baik dari Mahendra Siregar, tapi nama-nama yang ada sekarang masih di bawah standar,” ujar Bhima kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).

Saat ini, Bhima bilang OJK punya banyak pekerjaan rumah. Ada tekanan inflasi yang muncul akibat konflik Timur Tengah dan berisiko meningkatkan suku bunga perbankan serta mendorong naik cost of financing. Belum lagi, perubahan outlook Moody's dan Fitch menjadi negatif untuk utang pemerintah yang berimplikasi pada likuiditas sektor keuangan. Di saat yang sama, keluarnya dana asing di pasar modal ikut menambah tekanan. 

Dus, menurut Bhima, Ketua OJK terpilih ke depan setidaknya harus membangun ulang ekspektasi publik dan pelaku jasa keuangan terhadap pengawas yang independen dan berintegritas. Tak pelak, peremajaan internal OJK, termasuk di tingkat direktur dan staff, harus jadi prioritas.  

Agak berbeda, Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto melihat nama-nama dalam daftar calon yang ada memiliki pengalaman kuat di bidang sektor keuangan. Pun, sejumlah figur yang ada sudah terbiasa berkomunikasi dengan publik maupun wakil rakyat, dengan integritas yang baik. Dengan kata lain, mereka punya apa yang dibutuhkan pasar keuangan.

Lagipula, jika sudah lulus seleksi, Myrdal bilang kompetensi para calon sudah teruji. 

Myrdal menyoroti Dicky Kartikoyono yang unggul soal pengalaman pencalonan ketua. “Beliau ini kan sudah dua kali dicalonkan menjadi Deputi Gubernur BI dan kalau saya lihat dari hasil presentasi beliau itu sangat bagus,” sebut Myrdal.

Dari pengalamannya, Myrdal menilai Dicky sudah sangat menguasai sistem pembayaran di Indonesia. Tentu, kata Myrdal, sistem pembayaran juga dibutuhkan dalam transformasi OJK. Di sisi lain, Myrdal bilang Dicky juga memiliki kecakapan di bidang moneter yang bisa memberi warna tersendiri bagi OJK agar lebih efektif dan efisien dalam melakukan pengawasannya jika terpilih nanti.

Di luar itu, Myrdal bilang para pejabat sementara OJK saat ini memiliki pengalaman yang kuat di pasar keuangan. Pun, menurutnya Friderica dan Hassan telah berhasil menjalani masa transisi OJK dari kepemimpinan sebelumnya. 

Secara keseluruhan, Myrdal menilai Ketua DK OJK selanjutnya perlu memiliki integritas dan ketegasan, di saat yang sama juga mampu menunjukkan transparansi dan mendorong pengembangan produk untuk menciptakan pendalaman pasar yang lebih baik.

“Pengembangan itu kan bisa bermacam-macam, bisa pasar derivatif ataupun juga pasar terkait dengan karbon ya segala macemnya itu kan perlu dielaborasi lagi tuh supaya lebih liquid transaksinya,” papar Myrdal. 

Baca Juga: Satgas PASTI Hentikan 951 Entitas Pinjol Ilegal per Februari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News