Capex Tinggi Jadi Tantangan ISAT, Monetisasi Ekspansi Diproyeksi Mulai 2027



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) masih memiliki prospek pertumbuhan positif hingga 2026–2027. Namun, tingginya belanja modal (capex) pada 2026 membuat perseroan masih berada dalam fase investasi, sementara manfaat dari ekspansi jaringan dan bisnis digital diperkirakan lebih terasa mulai 2027.

Senior Analyst Kiwoom, Sukarno Alatas mengatakan, pertumbuhan ISAT ke depan akan ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari kenaikan average revenue per user (ARPU), pertumbuhan trafik data hingga ekspansi jaringan 5G dan 5G fixed wireless access (FWA).

Selain itu, pengembangan bisnis NeoCloud dan AI melalui Zankore juga menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ISAT. Monetisasi dari ekspansi tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja perseroan setelah periode investasi besar pada 2026.


Baca Juga: Sekitar 50 Tambang Belum Dapat Revisi RKAB, Begini Nasib Emiten Jasa Tambang

“ISAT diperkirakan masih memiliki prospek positif hingga 2026–2027, ditopang kenaikan ARPU, pertumbuhan trafik data, ekspansi 5G dan 5G FWA, serta mulai berkembangnya bisnis NeoCloud dan AI,” kata Sukarno kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

ISAT sendiri menaikkan panduan capex 2026 di luar komponen GPU dari Rp 13 triliun menjadi Rp 23 triliun. Tambahan Rp 10 triliun tersebut akan digunakan untuk pengembangan jaringan 5G, termasuk implementasi 5G FWA. Jika memperhitungkan capex GPU sebesar US$ 628 juta, total capex ISAT diperkirakan mencapai sekitar Rp 34 triliun pada 2026.

Menurut Sukarno, tingginya capex membuat kemampuan perseroan dalam mengonversi investasi menjadi pertumbuhan pendapatan dan EBITDA menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Dampak positif dari ekspansi tersebut diperkirakan baru lebih terlihat ketika monetisasi 5G, FWA, dan layanan cloud semakin optimal.

“Namun, 2026 masih menjadi fase investasi dengan capex tinggi, sehingga dampak positif terhadap laba kemungkinan lebih terlihat mulai 2027 ketika monetisasi 5G, FWA, dan cloud semakin optimal. Kunci utamanya adalah kemampuan ISAT mengonversi ekspansi capex menjadi pertumbuhan revenue dan EBITDA,” ujarnya.

Dari sisi katalis, kenaikan ARPU dan konsumsi data dapat menopang pertumbuhan bisnis utama ISAT. Sementara itu, monetisasi 5G dan FWA serta kontribusi NeoCloud, GPU, dan AI Factory melalui Zankore berpotensi menambah sumber pertumbuhan di luar bisnis telekomunikasi konvensional.

Di sisi lain, peningkatan capex juga membawa sejumlah risiko. Kenaikan depresiasi, potensi leverage dan beban bunga yang lebih tinggi dapat menekan kinerja keuangan. Persaingan tarif, perlambatan monetisasi 5G, serta risiko eksekusi dan utilisasi bisnis AI/NeoCloud juga perlu dicermati.

Dari sisi makro, suku bunga yang masih tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan. Pelemahan rupiah juga berpotensi menambah beban investasi yang menggunakan denominasi dolar, termasuk kebutuhan belanja untuk perangkat dan GPU.

Untuk sahamnya, Sukarno memberikan rekomendasi Hold atau Trading Sell terhadap ISAT dengan target harga Rp 2.250 per saham. Dengan harga ISAT di level Rp 2.310 pada perdagangan Senin (21/9/2026), target tersebut mengindikasikan potensi penurunan sekitar 2,6%. Sukarno menyebut rekomendasi sebelumnya yang diberikan pada 23 Juli 2026 telah mencapai target harga.

Baca Juga: Valas Utama Tertekan Dolar, Cemati Prospek JPY, EUR, dan GBP

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News