Cara Bank Saqu Bantu Nasabah Hadapi Ancaman Hantu Siber



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Saqu mengingatkan nasabah agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan siber menjelang Idulfitri. Pasalnya, aktivitas transaksi digital masyarakat biasanya meningkat menjelang hari raya tersebut. 

Momentum Ramadan dan Idulfitri biasanya diiringi lonjakan transaksi digital yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan penipuan, mulai dari pesan palsu paket kiriman dan promo belanja hingga permintaan data pribadi atau kode OTP. Seiring pesatnya layanan keuangan digital, modus seperti phishing, social engineering, dan penyalahgunaan data pribadi juga semakin marak dan sulit dikenali.

Untuk meningkatkan literasi keamanan digital sekaligus melindungi nasabah di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber, Bank Saqu  menggelar kampanye edukatif bertajuk “Awas Hantu Cyber


Chief Digital & Retail Business Officer Bank Saqu Angela Lew Dermawan mengatakan, ancaman kejahatan siber sering kali datang tanpa disadari, namun dapat menimbulkan dampak yang besar bagi masyarakat.

Baca Juga: Bank Saqu Catat 40% Nasabah dari Kalangan Solopreneur dan Generasi Produktif

“Menjelang Idulfitri, saat transaksi digital meningkat, kami mengingatkan nasabah untuk waspada terhadap berbagai modus penipuan. Melalui kampanye Awas Hantu Cyber, kami berharap masyarakat lebih memahami cara melindungi diri dan menjaga keamanan data pribadi,” ujar Angela dalam keterangannya, Sabtu (14/3/2026).

Melalui kampanye ini, Bank Saqu menggunakan pendekatan komunikasi kreatif dengan menghadirkan personifikasi “Hantu Cyber” yang menggambarkan berbagai ancaman digital yang mengintai aktivitas finansial masyarakat.

Kampanye tersebut akan hadir dalam bentuk serial konten edukasi yang disebarkan melalui berbagai kanal digital Bank Saqu, termasuk media sosial dan platform digital lainnya. Konten ini mengajak masyarakat mengenali berbagai karakter hantu cyber yang merepresentasikan modus penipuan yang sering terjadi.

Kampanye Awas Hantu Cyber dilatarbelakangi tingginya ancaman kejahatan siber di Indonesia. Data BSSN mencatat ratusan juta anomali trafik siber setiap tahun, sementara OJK memperkirakan kerugian masyarakat akibat penipuan digital mencapai lebih dari Rp2,5 triliun pada 2024. 

Baca Juga: Bank Saqu Catat 3,2 Juta Nasabah di Tahun Kedua Beroperasi

Laporan industri juga mencatat lebih dari 274.000 kasus penipuan finansial sepanjang November 2024–September 2025 dengan estimasi kerugian di atas Rp 6 triliun.

Selain edukasi, Bank Saqu juga terus memperkuat sistem keamanan dan perlindungan transaksi digital. Melalui kampanye ini, Bank Saqu berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga keamanan data pribadi dan lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News