Cara Membedakan Gejala Cacar Monyet dengan Cacar Air



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Penyakit cacat monyet atau Monkeypox terus menyebar di berbagai negara. Cacar monyet memiliki gejala yang mirip dengan cacar air. Berikut cara membedakan gejala cacar monyet dengan cacar air.

Zubairi Djoerban, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan sampai saat ini ada 2.525 kasus cacar monyet di 37 negara. Dengan 99% di antara yang terinfeksi adalah pria <65 tahun & usia rata-rata 37.

Menurutnya, jumlah kasus cacar monyet di dunia tersebut harus diwaspadai pemerintah Indonesia. Pemerintah harus menyiapkan strategi untuk menangkal persebarannya.


Sementara itu, dikutip dari Kompas.com, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengonfirmasi bahwa kasus yang sebelumnya disebutkan sebagai suspek cacar monyet atau monkeypox di Singkawang, Kalimantan Barat, hasilnya negatif. Juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sekaligus Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH menegaskan, suspek kasus cacar monyet telah terkonfirmasi negatif.

“Sudah dikonfirmasi. Kasus yang di Singkawang bukan (cacar monyet). Tapi cacar air,” kata Syahril saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (18/6/2022).

Baca Juga: Data WHO: Ada 1.600 Kasus Cacar Monyet, dengan 72 Kematian di 39 Negara

Beda gejala cacar monyet dengan cacar air

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menuliskan, gejala cacar monyet dan cacar air pada manusia hampir mirip, tetapi gejala cacar monyet lebih ringan dibandingkan gejala cacar. Perbedaan utama gejalanya adalah cacar monyet menyebabkan kelenjar getah bening membengkak (limfadenopati), sedangkan cacar air tidak.

Penyakit cacar monyet disebabkan oleh infeksi virus monkeypox, termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar), virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar), dan virus cacar sapi.

Mayoritas orang yang terinfeksi virus monkeypox memiliki perjalanan penyakit ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa adanya terapi khusus. Tapi, prognosis cacar monyet tergantung beberapa faktor seperti riwayat vaksinasi, status kesehatan awal, dan

komorbiditas. Beberapa orang yang harus dipertimbangkan mendapatkan perawatan termasuk orang dengan penyakit parah seperti penyakit hemoragik, lesi konfluen, sepsis, ensefalitis, atau kondisi lain yang memerlukan rawat inap. Lebih lanjut, kelompok yang mungkin berisiko tinggi terkena penyakit parah cacar monyet sebagai berikut:

  • Orang dengan immunocompromise misalnya infeksi HIV/AIDS, leukimia, limfoma, transplantasi organ, terapi agen alkilasi, antimetabolit, radiasi, penghambat faktor nekrosis tumor, kortikosteroid dosis tinggi, hingga penyakit autoimun.
  • Populasi anak-anak terutama kurang dari 8 tahun Wanita hamil atau menyusui
  • Orang dengan satu atau lebih komplikasi misalnya infeksi kulit bakteri sekunder, gastroenteritis dengan mual/muntah yang parah, diare, dehidrasi, bronkopneumonia, dan penyakit penyerta.
Selain itu, orang dengan infeksi menyimpang virus monkeypox yang mencakup implantasi di mata, mulut, atau area anatomi lainnya, di mana infeksi kemungkinan menjadi berbahaya, termasuk dipertimbangkan untuk mendapatkan perawatan.

Untuk diketahui, terdapat dua bentuk cacar monyet, yaitu galur Afrika barat yang lebih ringan dan galur Afrika tengah atau Kongo yang lebih parah. Meskipun infeksi virus cacar monyet di Afrika Barat terkadang menyebabkan penyakit parah pada beberapa individu, biasanya penyakit cacar monyet akan sembuh sendiri.

Gejala awal yang muncul dari infeksi cacar monyet adalah demam, sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening, kedinginan, dan kelelahan. Kondisi tersebut akan berkembang dengan munculnya ruam yang seringkali dimulai pada wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya termasuk alat kelamin.

Ruam akan berubah dan melewati tahap yang berbeda, bahkan bisa terlihat seperti cacar air atau sifilis, sebelum akhirnya membentuk keropeng yang kemudian rontok. Sebagian besar pasien sembuh dari cacar monyet dalam beberapa minggu.

Cacar monyet adalah penyakit virus yang langka tapi berpotensi serius, dengan mayoritas infeksi berlangsung selama 2-4 minggu. Dalam laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masa inkubasi cacar monyet biasanya selama 6-13 hari, tapi dapat berkisar dari 5-21 hari.

Penyakit monkeypox sering sembuh sendirinya, dengan gejala ringan atau parah dan lesi bisa sangat gatal atau nyeri. Anak-anak berisiko lebih tinggi dan cacar monyet selama kehamilan dapat menyebabkan komplikasi, cacar monyet bawaan atau lahir mati.

Mengenal cacar air

Cacar air adalah penyakit infeksi virus pada kulit yang menyebabkan bentol-bentol berisi cairan (leting) pada seluruh tubuh dan wajah. Penyakit ini dapat menular ke orang yang belum pernah menderita cacar air atau yang belum pernah menerima vaksin cacar air.

Melansir laman resmi Kabupaten Bogor, cacar air disebabkan virus herpes yang disebut dengan virus varicella-zoster, menyebabkan cacar air pada anak-anak dan herpes zoster saat dewasa.

Biasanya herpes zoster lebih terasa nyeri dan dapat mengakibatkan komplikasi yang berat. Adapun ciri dan gejala cacar air biasanya muncul dalam waktu 7-21 hari setelah terpapar. Gejalanya berupa demam ringan, pilek, batuk ringan, sakit kepala, lemas, dan tidak nafsu makan.

Bentol-bentol atau ruam muncul pada tubuh 2-3 hari setelahnya, yang kemudian berkembang menjadi lenting gatal berisi cairan dan kemudian mengering dan berbentuk koreng dalam 4-5 hari. Lenting yang muncul dapat berjumlah sedikit atau mencapai lebih dari 500 lentingan.

Cacar air biasanya menular sejak 1-2 hari sebelum ruam muncul, hingga 6 hari setelah lenting terbentuk. Pada mulut, telinga, dan mata juga dapat berbentuk luka.

Itulah cara membedakan gejala cacar monyet dengan cacar air. Waspada gejala cacar monyet agar bisa mendapatkan pengobatan lebih cepat.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jangan Panik, Kenali Bedanya Cacar Monyet dengan Cacar Air",

Penulis : Mela Arnani Editor : Bestari Kumala Dewi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto