JAKARTA. PT Phar Indonesia, subsidiari dari perusahaan multinasional Phar Group yang fokus di bidang media dan pemasaran, berhasil mengembangkan bisnis non-fuel atau bisnis tambahan di SPBU Pertamina di Jawa dan Bali. Sepanjang tahun lalu, PT Phar Indonesia merancang program pemasaran dan pengelolaan ruang advertorial yang ada di SPBU Pertamina milik swasta maupun individu. Target yang ingin dicapai adalah memberikan hasil positif bagi seluruh pihak, di mana pelanggan mendapat pengalaman lebih baik di SPBU Pertamina dan secara bersamaan pemilik SPBU Pertamina sukses meraih pendapatan berkelanjutan dari bisnis non-fuel.
Phar dengan keahliannya dalam menghasilkan pendapatan dari bisnis tambahan telah membantu pemilik SPBU Pertamina mengembangkan bisnis non-fuel, sehingga mereka dapat fokus pada pengembangan bisnis inti yakni penjualan bensin. Melalui kemampuan mengelola ruang advertorial dengan standardisasi media, Phar juga berhasil membenahi estetika sehingga memberikan pengalaman terbaik pelanggan SPBU Pertamina. "Kami bangga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis non-fuel SPBU Pertamina yang diantaranya dicapai melalui optimalisasi ruang advertorial. Strategi Phar ini dapat membuat pemilik SPBU Pertamina untuk fokus pada bisnis inti yakni penjualan bahan bakar minyak, dan secara keseluruhan ini adalah langkah efektif untuk meningkatkan pendapatan total,” kata Managing Director of Asia Phar Phartnerships Prem Bhatia, dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8). Saat ini terdapat sekitar 6.000 SPBU Pertamina di seluruh Indonesia, sehingga membuat SPBU Pertamina merupakan lokasi ideal bagi suatu perusahaan untuk menerapkan program promosi merek terhadap suatu produk atau jasa. Menurut Prem, Phar membantu terwujudnya kerjasama antara SPBU Pertamina dengan merek-merek ternama seperti AirAsia, Unilever, Yamaha, Bank BRI, Garnier, Nissan, dan sebagainya dengan tujuan memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan dan membantu pemilik SPBU Pertamina mencapai target yang dicanangkan. "Program kami juga memungkinkan pelanggan untuk berinteraksi dengan merek yang diiklankan,” tambah Prem Bhatia. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa beriklan di SPBU merupakan cara efektif untuk meningkatkan kesadaran akan merek atau brand awareness pada pelanggan sehingga berujung pada peningkatan penjualan. Sebagai contoh, penjualan produk Unilever melonjak 754 persen saat program aktivasi selama 2 bulan, dan melihat bahwa terjadi peningkatan penjualan secara signifikan ditambah dengan fakta bahwa Unilever adalah satu-satunya merek di industri yang beriklan melalui SPBU tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa recall atau kemampuan merek untuk tetap diingat pelanggan jika beriklan di SPBU jauh lebih tinggi dibandingkan dengan beriklan secara tradisional seperti misalnya di pinggir jalan. Bertolak dari hal tersebut, Phar Indonesia akan terus berekspansi melalui kerjasama dengan SPBU Pertamina lainnya untuk membantu memaksimalkan pendapatan dari bisnis non-inti atau bisnis tambahan. Di sisi lain, berbekal pengalaman internasional di bidang media digital, olahraga, musik, dan transportasi, Phar tentunya memiliki sejumlah rencana pengembangan bisnis di Indonesia. Saat ini, Phar juga telah menjadi agensi eksklusif untuk AirAsia di wilayah Asean untuk media iklan di majalah, pesawat, dan secara digital. Terkait dengan hal tersebut, Phar melakukan investasi di sektor teknologi informasi dengan menghadirkan layanan publisher trading desk. Melalui publisher trading desk, AirAsia Indonesia mulai bulan depan dapat mampu menjalankan kampanye online dengan target pasar pelanggan berdasarkan usia, gender, kebangsaan, dan tujuan bepergian, dari sebanyak total 55 juta penumpang yang terbang bersama AirAsia setiap tahunnya. Sementara itu, di bidang bisnis transportasi dan infrastruktur lainnya, Phar pada pekan lalu mengumumkan telah berhasil mendapat hak penamaan tiga stasiun di Kuala Lumpur, Malaysia. Ketiga stasiun itu akan diberi nama dari produk yang menanamkan investasinya di masing-masing stasiun, dan ini merupakan skema kerjasama yang baru pertama kali dilakukan di Asia.
Prem melihat potensi yang sama besar di Indonesia seiring dengan program pemerintah yang mencanangkan investasi untuk pembangunan infrastruktur khususnya MRT di Jakarta dan bandara. Kerjasama ini akan membawa keuntungan bagi para komuter dan membantu Indonesia bertransformasi menjadi negara berkelas dunia. Klien lain yang telah bekerjasama dengan Phar adalah Light Rail Manila Corp (Filipina), Rapid KL (Malaysia), Bangalore Metro (India) dan Transport for London (Inggris). PT Phar Indonesia adalah salah satu contoh dari perusahaan lokal yang memiliki keahlian dan pengalaman internasional dalam menawarkan langkah-langkah inovatif guna membantu pendanaan dalam proyek berskema public private partnership untuk keuntungan bagi negara dan masyarakat. (Sanusi) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News