Cari Alternatif Plastik, Kemenperin Siapkan Kertas hingga Kaca untuk Industri Kemasan



KONTAN.CO.ID JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mendorong diversifikasi bahan baku kemasan untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap plastik.

Pemerintah menyiapkan alternatif seperti kertas (paperboard) hingga kaca untuk menjawab tantangan pasokan plastik domestik di tengah kenaikan harga imbas konflik di Timur Tengah. Kemenperin mencatat kebutuhan industri kemasan mencapai sekitar 7 juta ton per tahun. 

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengatakan penggunaan kemasan berbasis kertas menjadi salah satu fokus utama. Saat ini, porsi kemasan kertas sudah mencapai sekitar 28% dari total industri kemasan, sementara kemasan fleksibel berbasis plastik masih mendominasi hingga 48%.


Baca Juga: Smelter Nikel dan HPAL Tertekan Lonjakan Harga Sulfur, Solar Industri dan HPM Baru

"Kertas ini sebenarnya sudah dikenal, sudah banyak digunakan ya seperti umpamanya untuk susu, untuk jus dan untuk banyak sekali," ujarnya di Kantor Kemenperin di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Putu menjelaskan, Kemenperin juga aktif mempertemukan produsen dan pengguna melalui skema business matching untuk mempercepat adopsi kemasan non-plastik.

Putu menilai momentum pergeseran ini menjadi peluang besar bagi industri kertas dalam negeri untuk tumbuh.

Selain kertas, pemerintah turut mendorong penggunaan kemasan berbahan kaca. Saat ini, porsi penggunaan kemasan kaca di dalam negeri masih sekitar 2%–3%. Kemenperin menargetkan angka tersebut dapat meningkat hingga 5%–6% untuk menggerakkan industri kaca nasional.

Namun demikian, Putu mengakui kemasan ramah lingkungan belum sepenuhnya mampu menggantikan plastik, terutama untuk produk makanan dan minuman. Tantangan utama terletak pada kemampuan material dalam menahan air, minyak, serta ketahanan panas.

Di sisi lain, alternatif berbasis bahan hayati seperti singkong, rumput laut, dan serat tumbuhan juga mulai dikembangkan. Saat ini kapasitas produksinya masih terbatas, sekitar 30.000–35.000 ton per tahun, sehingga penggunaannya masih bersifat spesifik.

Baca Juga: Mendag: Pasokan Minyak Goreng Aman, Kenaikan Dipicu Harga Plastik

Pada kesempatan yang sama, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merijanti Punguan Pitaria, menambahkan industri juga dapat beralih ke kemasan aseptik berbasis kertas yang tidak memerlukan rantai pendingin (cold chain).

Menurutnya, meski harga kemasan aseptik relatif lebih tinggi, efisiensi dari sisi energi dan distribusi membuat biaya keseluruhan menjadi kompetitif.

"Produknya sudah cukup stabil, jadi bisa diletakkan di suhu ruang, dan masa simpannya sangat lebih panjang dibandingkan produk itu tidak menggunakan kemasan aseptik," jelasnya.

Merijanti menyebutkan, kapasitas produksi kemasan aseptik dalam negeri saat ini mencapai 21 miliar kemasan per tahun dengan utilisasi sekitar 50%, sehingga masih terbuka ruang besar untuk peningkatan penggunaan.

Sebelumnya diberitakan Kontan, produsen kemasan kertas cokelat, PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) mengakui permintaan produk telah meningkat. Direktur Utama Alkindo Naratama, Herwanto Sutanto mengatakan, permintaan produk kemasan subtitusi plastik seperti kertas telah meningkat, terutama untuk kemasan makanan (food packaging).

"Plastik saat ini bukan hanya terjadi kenaikan harga, tetapi pengadaannya yang jadi isu. Di lain sisi, permintaan kertas saat ini diperkirakan akan terus bergeser ke arah positif," kata Sutanto saat ditemui Kontan di Jakarta, Senin (21/4/2026).

Baca Juga: Biaya Material Naik, Margin Proyek Konstruksi Bisa Terkikis Habis

Sebelum konflik Timur Tengah, ALDO telah memperkenalkan kertas cokelat sebagai upaya meminimalisasi penggunaan kemasan polistyren atau styrofoam yang dibanderol dengan harga murah. Peningkatan penjualan kertas cokelat pun terus terjadi.

"Tapi dengan adanya kelangkaan plastik ini terjadi percepatan permintaan," lanjutnya.

Dengan begitu, Sutanto menyebut penjualan kemasan kertas ALDO telah meningkat sekitar 20% hingga 30% sejak awal tahun. Ia pun memproyeksikan, jika perang berlanjut, lonjakan permintaan kertas akan tumbuh lebih signifikan dalam tiga sampai empat bulan ke depan. Secara paralel, tak hanya domestik, permintaan ekspor juga telah meningkat.

Senada, PT Payung Rejeki Indonesia, produsen kemasan kertas merek GRADE, juga merasakan peningkatan permintaan meski tak di semua segmen.

Marketing Manager Payung Rejeki Indonesia, Adrian Nada mengatakan, lonjakan permintaan terjadi di segmen kemasan untuk usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) penjual gorengan atau makanan-minuman (mamin) yang sekarang sudah banyak beralih ke kemasan kertas.

"Karena bagi segmen UMKM, kenaikan sedikit saja pada harga pokok produksi (HPP) pasti sangat berpengaruh terhadap penjualan," kata Adrian saat dihubungi Kontan secara terpisah, Minggu (19/4/2026).

Sementara, ia mencermati pada segmen menengah seperti hotel, restoran, kafe (horeca) tak tampak peningkatan permintaan yang signifikan. Sebab, lanjut Adrian, pasar segmen ini telah teredukasi untuk menggunakan produk kertas sebelum ada kenaikan harga plastik. 

Sebagai strategi, Adrian bilang pihaknya akan terus memasifkan kampanye penggunaan kertas sebagai kemasan, khususnya melalui pemasaran digital.

Untuk diketahui, Payung Rejeki Indonesia melayani permintaan kemasan kertas dengan kategori cake liner, doilies paper, paper bag, paper base, wrap, tableware.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News