Catat Pertumbuhan di Kuartal I, Begini Prediksi Kinerja BMRI di Tahun 2023



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) diprediksi masih positif, bercermin dari pertumbuhan yang dicatatkan pada kuartal I 2023. BMRI membukukan laba bersih sebesar Rp 12,6 triliun di kuartal I 2023, naik 19,4% QoQ dan naik 25,2% YoY.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo menyebutkan, pencapaian BMRI tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, sehingga menghasilkan pertumbuhan pendapatan bunga yang kuat.

Kedua, digitalisasi yang kuat, sehingga menghasilkan pendapatan berbasis biaya yang lebih tinggi. Ketiga, peningkatan kualitas aset yang menurunkan beban provisi,” ujar dia dalam riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia tertanggal 27 April 2023.


Keuntungan BMRI di kuartal I didapatkan dari pinjaman grosir, obligasi, dan portofolio surat berharga yang signifikan selama kenaikan suku bunga. 

Baca Juga: Bank Mandiri Torehkan Kinerja Impresif di Kuartal I 2023

Hal itu disebabkan oleh penyesuaian imbal hasil yang mengikuti kenaikan suku bunga acuan, sehingga meningkatkan pendapatan bunga. Selain itu, pertumbuhan pinjaman BMRI juga menguat sebesar 12,4% YoY.

“Campuran aset pendapatan yang menguntungkan sangat penting di tengah keraguan bank untuk menaikkan suku bunga, mengingat banyaknya likuiditas dan persaingan pinjaman di industri,” tutur dia.

Selain pinjaman korporasi yang turun 4,3% QoQ di kuartal I 2023, segmen pinjaman lainnya mencatat pertumbuhan QoQ yang positif. Segmen komersial, anak perusahaan, dan mikro mencatatkan pertumbuhan tertinggi jika dibandingkan dengan kuartal lalu.

“Segmen-segmen ini menghasilkan imbal hasil pinjaman yang lebih tinggi, sehingga akan membantu meningkatkan imbal hasil pinjaman campuran BMRI ke depan,” ungkap dia.

Hadiman mengatakan, BMRI berhasil membukukan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp 23 triliun, turun 3,8% QoQ. Namun, kondisi itu diimbangi oleh lonjakan beban bunga sebesar Rp 8,4 triliun yang naik 16,3% QoQ.

Baca Juga: Prospek Saham Emiten Big Caps Masih Tetap Menarik

Lonjakan tersebut disebabkan kenaikan biaya dana atau cost of fundyang menjadi 1,96%, karena BMRI berusaha mengamankan likuiditas dengan menaikkan suku bunga simpanan.

“Namun, kami percaya bahwa penyesuaian harga hasil aset yang sedang berlangsung dan pengurangan deposit dengan suku bunga khusus di kuartal kedua 2023 akan meningkatkan margin BMRI,” papar Hadiman.

BMRI melaporkan beban provisi yang lebih rendah sebesar Rp 3,7 triliun, turun 14,5% QoQ, karena biaya kredit atau cost of credit yang lebih rendah, yaitu sebesar 1,2%.

Non performing loan (NPL) menurun menjadi 1,8% pada kuartal I 2023, dengan cakupan NPL yang lebih tinggi, yaitu sebesar 303%. Pinjaman restrukturisasi COVID-19 juga menurun menjadi Rp 44,8 triliun di kuartal I 2023.

“Terlepas dari masalah di beberapa pinjaman korporasi BUMN, BMRI percaya bahwa CoC dapat dipertahankan dalam panduannya untuk tahun 2023,” papar dia.

Baca Juga: Usai Libur Lebaran, Pasar Saham Fokus ke FOMC The Fed

Dengan fundamental dan likuiditas yang lebih kuat, BMRI diprediksi bisa terus fokus menjaga pertumbuhan kredit dan meningkatkan margin. Tren peningkatan profitabilitas BMRI diprediksi akan terus berlanjut, terutama didorong oleh pertumbuhan aset dan penyesuaian imbal hasil.

Sementara itu, likuiditas yang cukup dengan CASA yang lebih tinggi akan membuat CoF tetap terkelola. Dengan demikian, NIM BMRI bisa lebih tinggi di tahun 2023.

NIM BMRI diproyeksikan turun dari 6,0% menjadi 5,6% melihat CoF yang sedikit lebih tinggi dan asumsi hasil aset yang lebih rendah. Sementara, pertumbuhan kredit menjadi 14% dan CoC menjadi 1,3%.

Handiman pun merekomendasikan buy untuk BMRI dengan target harga Rp 6.300 per saham untuk tahun 2023. “Risiko penurunan kinerja adalah melambatnya pertumbuhan kredit, memburuknya kualitas aset, dan menurunnya NIM,” pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati