Catatkan kinerja solid hingga kuartal III-2021, berikut rekomendasi saham BBNI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) catatkan penurunan Net Interest Income (NII) secara kuartalan. Tercatat, NII emiten pelat merah ini sebesar Rp 9,4 triliun pada kuartal III-2021 atau turun 5,5% secara kuartalan. 

Head of Research Panin Sekuritas Nico Laurens dalam risetnya pada 26 Oktober menyebut turunnya NII BBNI tidak terlepas dari masih flat-nya pertumbuhan kredit. Selain itu, penurunan net interest margin (NIM) juga turut menjadi faktor. Nico bilang, penurunan NIM disebabkan oleh translasi kebijakan moneter dan restrukturisasi yang masih dilakukan, sehingga blended loan yield turun ke 7,3% (kuartal II-2021: 7,8%).

Walau begitu, BBNI berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih yang ciamik dengan naik 79,3% secara year on year (yoy) menjadi Rp 7.7 triliun. Nico menyebut perolehan tersebut in-line dengan estimasi Panin Sekuritas karena telah memenuhi 70,1% dari proyeksi tahun ini.  


“Kenaikan laba bersih didorong oleh lebih rendahnya beban provisi, tercatat sebesar Rp 4 triliun atau turun 19,3% secara kuartalan. Angka tersebut setara dengan cost of credit sebesar 2,8% di kuartal III-2021, jauh lebih baik dibanding kuartal II-2021 yang sebesar 3,5%,” ujar Nico dalam risetnya.

BBNI juga berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit di mana kredit tercatat sebesar Rp 570,6 triliun atau naik 3,7% secara yoy. Nico menjelaskan, perbaikan secara tahunan didorong oleh segmen risiko yang lebih rendah seperti, corporate private, payroll serta KUR. 

Baca Juga: Net buy asing Rp 104 miliar, IHSG koreksi ke 6.605 pada sesi pertama hari ini (27/10)

Secara umum, ia juga menilai positif beberapa inisiatif yang dilakukan oleh manajemen BBNI, yang terlihat dari masuknya new client yaitu beberapa top tier pemain di industri. Ia juga melihat pertumbuhan kredit masih akan positif ke depannya. Salah satu pendorongnya adalah segmen SME melalui Xpora, di mana dalam tiga bulan telah menyalurkan kredit baru sebesar Rp1,1 triliun melalui platform ini. 

Di sisi lain, BBNI mencatat kinerja penghimpunan dana murah yang sangat sehat, salah satu faktor pendukung kredit yang solid. Di mana komposisi himpunan dana murah atau CASA mencapai 69,7% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir ini.

 
BBNI Chart by TradingView

“Kami melihat hal ini didukung oleh sejumlah digital initiatives dari perseroan, seperti Open API dengan 283 servis, tertinggi dibandingkan dengan peers, menyediakan buy now pay later (BNPL) dengan beberapa e-commerce seperti Traveloka & Shopee, serta peningkatan fitur mobile banking,” imbuh Nico.

Dengan prospek penurunan restrukturisasi kredit ke depan, tren positif CASA, ruang pemangkasan cost of fund, serta adanya ekspansi digital yang positif, Nico pun merekomendasikan beli saham BBNI. Ia memasang target harga Rp 8.600 per saham yang mengimplikasikan PB 1,3x di 2022.

Selanjutnya: Investasi perbankan di startup lewat modal ventura mulai tuai hasil positif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .