KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk (
DEPO) memandang prospek industri ritel bahan bangunan untuk kuartal kedua dan sisa tahun 2026 masih cukup menantang, meski tetap suportif dan stabil. Direktur Caturkarda Depo Bangunan, Caroline Kettin, mengungkapkan kondisi makro ekonomi pada kuartal I-2026 masih memberi pengaruh terhadap industri ritel, termasuk sektor bahan bangunan.
Pergeseran momentum Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal tahun ini juga turut membentuk pola transaksi penjualan pada awal tahun.
Baca Juga: Laba Medco (MEDC) Melonjak 282,4%, Terdongkrak Harga Migas dan Laba Amman (AMMN) “Kinerja di kuartal pertama tahun ini menunjukkan dinamika yang sejalan dengan pergeseran kalender libur nasional. Momentum Ramadan dan Idul Fitri yang datang lebih awal turut mewarnai pola transaksi penjualan. Awal puasa yang dimulai cukup berdekatan dengan awal tahun ditambah dengan kondisi ekonomi makro yang mengubah pola konsumsi masyarakat, cukup berdampak pada kinerja kami,” ujar Caroline kepada Kontan, pekan lalu.
Meski demikian, Caroline menegaskan secara keseluruhan performa perseroan masih sesuai ekspektasi. Menurutnya, dinamika ini hanya siklus operasional yang sehat dan perusahaan masih melihat prospek di sisa tahun ini dengan sikap optimis.
Memasuki kuartal II hingga sepanjang 2026, DEPO melihat kebutuhan masyarakat terhadap pembangunan rumah, renovasi, dan konstruksi masih terjaga, sehingga menjadi penopang permintaan di tengah tekanan ekonomi. Dengan strategi adaptasi yang berkelanjutan, pihaknya meyakini dapat terus menangkap peluang-peluang positif di pasar dengan baik.
Terkait target kinerja keuangan, manajemen masih optimistis target pertumbuhan pendapatan 10% pada 2026 tetap sejalan dengan realisasi saat ini dan belum ada revisi target. “Secara keseluruhan, kami optimis realisasi kinerja keuangan Perseroan hingga saat ini masih sejalan dengan perencanaan internal kami,” tuturnya.
Baca Juga: Biaya Logistik Naik, Asosiasi Pengusaha Truk Minta Evaluasi Kebijakan Pelabuhan Di tengah kondisi pasar yang dinamis, kinerja same store sales (SSS) DEPO juga dinilai masih menunjukkan resiliensi yang cukup baik. DEPO terus berupaya menjaga stabilitas performa gerai melalui optimalisasi portofolio produk dan peningkatan pelayanan. Adapun, terkait tantangan utama bisnis ritel bahan bangunan tahun ini, menurut Caroline, adalah bagaimana perusahaan mampu menavigasi dinamika pasar makro secara efektif. Sebagai langkah mitigasi, DEPO fokus pada penguatan fundamental operasional bisnis dan optimalisasi rantai pasok agar ketersediaan produk tetap terjaga. “Kami memastikan kelengkapan serta ketersediaan produk selalu terjaga dengan baik, sembari terus berinovasi agar kualitas pelayanan bagi pelanggan di Depo Bangunan tetap memuaskan,” tambahnya Untuk mendukung pertumbuhan, DEPO menyiapkan alokasi belanja modal atau
capital expenditure (capex) sebesar Rp 130 miliar pada 2026. Hingga kuartal pertama, penyerapannya disebut berjalan proporsional sesuai rencana strategis perusahaan.
Capex tersebut difokuskan untuk ekspansi berkelanjutan, termasuk persiapan pembukaan gerai baru, serta optimalisasi fasilitas dan operasional gerai eksisting.
Baca Juga: Sawit Sumbermas (SSMS) Percaya B50 Jadi Penopang Permintaan dan Katalis Positif CPO Selain itu, DEPO juga tengah mematangkan ekspansi jaringan baru dengan fokus di wilayah luar Pulau Jawa. “Kami berupaya agar seluruh tahapan persiapan ini berjalan sesuai jadwal,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News