CDS Indonesia Diproyeksi Sideways hingga Akhir Tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Credit default swap (CDS) Indonesia diperkirakan masih cenderung sideways hingga akhir tahun. Kondisi rupiah, cadangan devisa, inflasi, serta risiko fiskal dan eksternal menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan arah premi risiko Indonesia.

Berdasarkan data pasar, CDS Indonesia tenor 10 tahun berada di level 131,32 basis poin (bps) pada Jumat (18/9/2026), turun dari 132,51 bps pada pekan sebelumnya dan 135,73 bps sebulan lalu.

Sementara itu, CDS tenor 5 tahun berada di level 82,12 bps, turun dari 82,75 bps sepekan sebelumnya dan 84,21 bps sebulan lalu.


Baca Juga: CDS Indonesia Melandai, Premi Risiko Mulai Berkurang

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, penurunan CDS tersebut menunjukkan persepsi risiko aset Indonesia mulai membaik. Namun, pergerakan CDS ke depan tidak hanya ditentukan oleh kondisi nilai tukar rupiah.

"Ya, penurunan CDS dapat dikatakan persepsi risiko aset Indonesia membaik," ujar David kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Menurut David, penurunan CDS saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik. Cadangan devisa yang masih stabil serta rasio defisit fiskal yang masih berada di bawah ambang batas 3% PDB menjadi faktor yang menopang persepsi risiko Indonesia, di tengah kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi oleh arus modal jangka pendek, pergerakan indeks dolar AS (DXY), imbal hasil US Treasury, harga minyak, serta kondisi risk-off di pasar global.

Untuk diketahui, berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (18/9/2026) berada di level Rp 17.758 per dolar AS, melemah 0,03% secara harian.

David mengatakan, pasca pengumuman kenaikan suku bunga, penyempitan yield differential dapat mendorong investor beralih ke aset berbasis dolar AS. Kondisi tersebut kemudian dapat memperkuat DXY dan memberikan tekanan terhadap rupiah.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah belum secara langsung mempengaruhi CDS. Pasar masih mencermati perkembangan kondisi ekonomi Indonesia secara menyeluruh sebelum mengubah persepsinya terhadap risiko aset Indonesia.

Hingga akhir tahun, David memperkirakan CDS akan bergerak sideways dengan potensi volatilitas. Hal tersebut dengan catatan rasio defisit fiskal, cadangan devisa dan inflasi masih berada sesuai target.

"Jika rasio defisit fiskal, cadangan devisa, dan inflasi masih sesuai dengan target, tren CDS akan cenderung sideways dengan sedikit meningkat atau volatile," kata David.

Baca Juga: Geopolitik Memanas dan Politik AS Goyang, Harga Emas Berpotensi Melonjak

David memperkirakan, CDS 5 tahun akan bergerak di kisaran 81-98 bps hingga akhir tahun. Sementara CDS 10 tahun diproyeksikan berada di kisaran 131-145 bps.

Namun, sejumlah risiko tetap dapat mendorong CDS kembali melebar. Di antaranya arus keluar modal asing, pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, rasio defisit fiskal yang menembus 3%, serta meningkatnya risiko inflasi.

Selain itu, ketidakpastian eksternal juga dapat mempengaruhi persepsi risiko Indonesia. Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak berpotensi menekan cadangan devisa serta kondisi fiskal.

Risiko inflasi juga perlu dicermati, terutama apabila pelemahan rupiah meningkatkan harga barang impor. David turut menyebut risiko El Nino yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News