KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Risiko investasi di Indonesia mulai menjadi perhatian pasar memasuki kuartal III-2026. Hal ini tercermin dari posisi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 10 tahun yang mencapai 137,80 basis points (bps) pada Minggu (6/9/2026). Meski level tersebut belum menunjukkan kondisi krisis, kenaikan CDS menjadi sinyal bahwa investor mulai memperhitungkan risiko yang lebih tinggi dalam memegang aset Indonesia. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman mengatakan, perkembangan CDS Indonesia pada kuartal III 2026 menunjukkan adanya peningkatan persepsi risiko di pasar.
"CDS 10 tahun di 137,80 bps menunjukkan pasar sedang menaikkan harga risiko Indonesia. Kondisi ini memang masih menunjukkan belum krisis, tetapi jelas warning bahwa investor mulai meminta premi lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia," ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (4/9/2026). Menurut Rizal, pergerakan CDS ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, terutama perkembangan harga minyak dan tensi geopolitik, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Mixed Senin (7/9), Investor Waspadai Rupiah dan Konflik AS-Iran Jika tekanan tersebut berlanjut, CDS Indonesia berpotensi meningkat lebih cepat lantaran risiko eksternal dapat memberikan tekanan secara bersamaan terhadap nilai tukar, inflasi, dan kondisi fiskal. "Jika tekanan minyak, geopolitik, dan rupiah berlanjut, CDS bisa naik lebih cepat karena risiko eksternal langsung menekan kurs, inflasi, dan fiskal sekaligus," jelasnya. Di sisi lain, Rizal menilai kondisi fiskal tidak cukup hanya dilihat dari batas defisit anggaran 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pasar justru akan melihat kemampuan penerimaan negara dalam menopang belanja, pembayaran bunga utang, serta kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat. "Kalau belanja membesar tetapi penerimaan tidak ikut menguat, maka yang dipertanyakan bukan kemampuan Indonesia berutang hari ini, tetapi kemampuan fiskal menjaga kredibilitas dalam beberapa tahun ke depan," kata Rizal. Rizal memandang, pemerintah perlu menjaga kepercayaan pasar terhadap konsistensi kebijakan fiskal dan moneter. Hal ini menjadi semakin penting apabila tekanan eksternal masih berlanjut hingga akhir kuartal III 2026. Menurut dia, skenario yang paling berbahaya bagi pasar keuangan Indonesia adalah ketika harga minyak tetap tinggi, rupiah melemah, yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat, dan CDS melebar secara bersamaan.
Baca Juga: Rencana Merger PTPP dan ADHI Jadi Sorotan, Ini Skenario dan Dampaknya bagi Investor Saat ini yield SBN tenor 10 tahun berada di level 7,1%, atau telah naik 10,9% secara tahunan (YoY). Sementara itu, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.642 per dolar AS.
Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkaran tekanan terhadap perekonomian. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor dan beban subsidi, sementara pelemahan rupiah serta kenaikan yield SBN dapat meningkatkan biaya utang pemerintah. Pada akhirnya, Rizal menekankan, kondisi tersebut berpotensi kembali memperburuk persepsi risiko investor. "Yang harus dijaga bukan sekadar angka defisit, tetapi kepercayaan pasar terhadap konsistensi fiskal dan moneter," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News