CDS Indonesia Meningkat, Begini Prospeknya pada Semester II 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persepsi risiko investasi atawa Credit Default Swap (CDS) Indonesia meningkat menjelang akhir Juni 2026. Aspek kebijakan fiskal Indonesia diproyeksi menjadi salah satu penentu arah prospek CDS pada semester II – 2026. 

Tercatat, CDS 10 tahun meningkat ke kisaran level 144 akhir pekan ini. Angka ini meningkat dari pekan sebelumnya yang di sekitar 140 maupun dari awal bulan ini yang di kisaran 139. CDS 5 tahun juga naik menjadi 90 dari 87 di pekan sebelumnya. 

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, kenaikan CDS 10 tahun Indonesia dari kisaran 139 ke sekitar 144, serta CDS 5 tahun dari sekitar 87 ke 90, belum berarti risiko investasi Indonesia masuk zona bahaya akut. Angka ini masih sejalan dengan status Indonesia sebagai investment grade, dengan rating S&P dan Fitch di BBB, Moody’s Baa2, serta StarMine implied rating BBB. 


Namun, kenaikan tersebut tetap patut diwaspadai karena pasar sedang meminta kompensasi risiko yang lebih mahal. Dokumen CDSAQ menunjukkan CDS 5 tahun berada di 89,044 bps dan CDS 10 tahun 142,743 bps, dengan kurva CDS yang menanjak dari tenor pendek ke tenor panjang. 

"Artinya, pasar tidak sedang menilai Indonesia berisiko gagal bayar dalam waktu dekat, tetapi menilai risiko jangka menengah-panjang meningkat karena kombinasi rupiah lemah, yield SBN tinggi, tekanan IHSG, risiko MSCI, ketidakpastian fiskal, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah," ujar Syafruddin kepada Kontan, Jumat (26/6/2026). 

Baca Juga: Longsor 4,55% dalam Sepekan, Begini Prediksi IHSG di Pekan Depan

Dengan demikian, Syafruddin menyebut, risiko investasi Indonesia masih tergolong dapat dikelola, tetapi investor tidak boleh membacanya sebagai kondisi nyaman. Posisi saat ini lebih tepat disebut zona waspada, bukan zona krisis. 

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menambahkan, risiko investasi memang agak naik dibanding awal tahun. Ini terlihat dari outflow asing, secara year to date (ytd) untuk pasar obligasi dan saham sudah lebih dari Rp 70 triliun keluar dari pasar Indonesia. 

David melihat ada potensi perbaikan prospek investasi di semester II, mengingat harga minyak mentah global yang sudah turun mendekati level pre-konflik AS-Iran, sehingga dapat mengurangi tekanan fiskal.

Pemerintah juga terlihat berupaya menjaga kredibilitas fiskal, salah satunya lewat efisiensi berbagai program seperti penghematan anggaran program makan bergizi gratis (MBG). 

"Namun risiko ke depan masih ada, mengingat lembaga seperti MSCI baru menunda review status pasar Indonesia ke November dan pasar juga menanti review lembaga rating S&P," ucap David.

Fundamental Solid

Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menyoroti outlook dari S&P. Dalam outlook tersebut, S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 di level 5,1% dan inflasi di 3,2%. 

Harry bilang prediksi GDP oleh lembaga pemeringkat seperti S&P menjadi sinyal fundamental ekonomi yang cukup solid.  Bagi pasar surat utang, angka ini cukup baik risiko gagal bayar (Implied Probability of Default).

"Level CDS Indonesia yang berada di kisaran 90 bps mencerminkan keyakinan investor bahwa Indonesia masih memiliki tetap kinerja ekonomi yang cukup solid," kata Harry.

Baca Juga: Persepsi Risiko Investasi (CDS) Indonesia Meningkat, Cermati Efeknya untuk Investor

Syafruddin menimpali, prospek premi risiko investasi Indonesia pada semester II-2026 masih bergantung pada kemampuan pemerintah menurunkan ketidakpastian di tiga arena yakni rupiah, APBN, dan pasar modal.

Ada ruang perbaikan jika pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal, memperjelas strategi pembiayaan, mempercepat reformasi pasar modal menjelang keputusan MSCI, memperkuat DHE, serta menjaga cadangan devisa. 

Penurunan CDS secara harian dan bulanan dalam dokumen CDSAQ memberi sinyal bahwa pasar masih memberi ruang pemulihan. CDS 5 tahun turun 1,65% secara harian dan turun 3,25% secara bulanan. Sedangkan CDS 10 tahun turun 1,19% secara harian dan turun 2,64% secara bulanan.

Namun, risiko bearish tetap besar karena CDS 5 tahun masih naik 13,17% secara tahunan dan CDS 10 tahun naik 11,70% secara tahunan. 

“Selama rupiah masih dekat Rp 18.000 per dolar AS, forward masih mengarah ke depresiasi, yield SBN bertahan di sekitar 7 persen lebih, dan APBN harus membiayai stimulus, subsidi, serta utang valas, premi risiko sulit turun tajam," jelas Syafruddin.

Berpotensi Membaik

Syafruddin menyebut, semester II-2026 berpotensi membaik hanya jika pemerintah menghasilkan bukti kebijakan, bukan sekadar narasi stabilitas. Jika CDS Indonesia naik, dampaknya akan terasa melalui kenaikan biaya risiko di hampir semua pasar. Investor asing akan meminta yield lebih tinggi untuk membeli SBN, sehingga biaya pembiayaan pemerintah naik. 

Korporasi juga menghadapi spread utang yang lebih mahal karena risiko negara menjadi acuan harga risiko korporasi. Rupiah dapat kembali tertekan karena investor mengurangi eksposur aset rupiah atau meminta hedging lebih mahal. IHSG juga berisiko melemah karena kenaikan CDS menaikkan country risk premium dan discount rate, sehingga valuasi saham turun. 

"Dalam konteks APBN, CDS yang naik dapat memperberat biaya penerbitan utang dan mempersempit ruang fiskal untuk belanja sosial, pendidikan, kesehatan, subsidi energi, dan stimulus," terang Syafruddin. 

Baca Juga: CDS Naik, Begini Dampaknya ke SBN

Sebaliknya, jika CDS menurun secara konsisten, Syafruddin menjelaskan bahwa pasar akan membaca bahwa risiko Indonesia membaik. Yield SBN berpeluang turun, biaya pembiayaan pemerintah lebih ringan, rupiah mendapat dukungan, IHSG memperoleh ruang rebound, dan investor asing lebih mudah kembali masuk ke saham serta obligasi.

Jadi, CDS bukan sekadar angka teknis pasar kredit. CDS adalah harga kepercayaan terhadap Indonesia. Ketika CDS naik, kepercayaan menjadi mahal.  "Ketika CDS turun, ruang stabilisasi rupiah, SBN, dan IHSG menjadi lebih besar," imbuhnya.

David menyarankan investor dapat mengambil sikap prudent, sambil tetap selektif dalam memilih instrumen investasi dan mencermati momentum atau peluang yang baik untuk kembali akumulasi.

Sementara, Novani Karina Saputri, Analis Mirae Asset Sekuritas menyebut strategi defensif tetap disarankan melalui alokasi seimbang antara saham dan aset berisiko rendah, serta instrumen pendapatan tetap berdurasi pendek-menengah.

"Reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas, diversifikasi, dan fleksibilitas saat peluang investasi kembali muncul," ujar Novani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News