CDS Indonesia naik gara-gara krisis Turki dan defisit neraca



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persepsi investor terhadap risiko investasi Indonesia kembali meningkat. Pasar modal Indonesia tertekan berbagai sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri.

Jumat lalu (17/1), credit default swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun naik menanjak 11,72% dibanding bulan sebelumnya jadi 123,83. Bahkan bila dihitung sejak awal tahun, CDS sudah naik 45,26%.

CDS Indonesia tenor 10 tahun juga melesat 11,16% dibanding bulan sebelumnya ke 211,89. Sejak awal tahun, CDS tenor 10 tahun naik 37,64% .


Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan, persepsi risiko investasi Indonesia memang naik sejak awal Agustus. Investor menilai risiko investasi Indonesia naik lantaran defisit transaksi berjalan di semester satu melebar jadi 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Sentimen negatif makin kuat setelah Turki dihantam krisis keuangan. Sentimen tersebut mengagetkan pasar keuangan global. Alhasil, risiko investasi Indonesia pun kembali terbang. Negara-negara emerging market kompak mengalami kenaikan risiko investasi seiring memburuknya krisis Turki, kata Made.

Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar menambahkan, defisit neraca dagang Indonesia Juli yang lebih tinggi dari konsensus turut memperparah posisi CDS Indonesia.

Pelan tapi pasti, efek dari peningkatan persepsi risiko investasi Indonesia mulai terlihat. Menurut data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko pada Rabu (15/8), investor asing melakukan aksi jual surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 4,26 triliun. Padahal, antara 9–14 Agustus porsi kepemilikan investor asing masih naik Rp 3,12 triliun, kendati volatilitas kurs rupiah meningkat.

Pengaruh positif

Di sisi lain, Anil menganggap, kenaikan persepsi risiko investasi Indonesia tidak serta merta membawa dampak buruk pada investasi di sektor riil. Faktor kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah lebih mempengaruhi sektor riil, kata dia.

Peningkatan CDS Indonesia juga tak melulu negatif. Menurut Anil, jika CDS bergerak naik dengan stabil, hal ini justru bisa menarik investor asing. Sebab, yield SUN juga bisa terkerek mengikuti pergerakan CDS Indonesia.

Ia optimistis persepsi investor terhadap risiko investasi Indonesia bakal segera kembali turun. Alasannya, sentimen krisis keuangan Turki pada dasarnya hanya berpengaruh secara tidak langsung terhadap Indonesia.

Selain itu, kondisi makroekonomi Indonesia cukup baik, terlepas dari memburuknya defisit transaksi berjalan dan defisit neraca dagang. Kendati begitu, untuk memastikan persepsi risiko investasi Indonesia membaik, kurs rupiah juga mesti menguat secara berkelanjutan.

Apalagi, pasar yakin The Federal Reserves akan menaikkan suku bunga acuan bulan depan. Alhasil, sentimen yang berkaitan dengan data ekonomi AS berpotensi mempengaruhi persepsi risiko investasi Indonesia. Makanya, efek kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan lebih dahulu dari The Fed akan kembali diuji, terang Made.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati