CDS Turun, Yield SBN Tetap Tinggi, Ini Penjelasan Ekonom



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar obligasi pemerintah menunjukkan sinyal yang beragam dalam sepekan terakhir. Indikator risiko Indonesia mengalami perbaikan, tetapi di sisi lain imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih bertahan di level tinggi.

Yield SBN tenor 5 tahun naik tipis ke level 6,33% pada Selasa (21/4), dari sekitar 6,29% pada pekan sebelumnya. Sementara itu, yield tenor 10 tahun cenderung stabil di kisaran 6,59%–6,60%.

Berbanding terbalik, premi risiko Indonesia justru menurun. Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun tercatat turun 4,38% secara mingguan menjadi 81,52. CDS tenor 10 tahun juga melandai ke 125,77 dari 130,73 pada pekan lalu.


Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pergerakan yang berbeda antara CDS dan yield SBN bukanlah anomali. Hal ini mencerminkan perbedaan faktor yang memengaruhi masing-masing indikator.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.181 Per Dolar AS Hari Ini (22/4), Asia Bervariasi

"CDS lebih dekat ke premi risiko gagal bayar negara dalam dolar Amerika Serikat, sedangkan imbal hasil SBN rupiah juga memuat unsur likuiditas pasar, tekanan pasokan surat utang, arah suku bunga Bank Indonesia, risiko nilai tukar, dan perilaku investor di pasar sekunder," ujar Josua kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).

Ia melihat penurunan CDS sebagai indikasi membaiknya persepsi risiko terhadap Indonesia, terutama dari sisi kemampuan bayar. 

Namun, pasar obligasi domestik masih menuntut imbal hasil tinggi akibat ketidakpastian yang belum mereda, mulai dari arah suku bunga, pergerakan rupiah hingga besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.

Josua menuturkan sepanjang 2026 yield SBN tenor 10 tahun tercatat telah meningkat sekitar 54 basis poin secara year to date (YtD). 

Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan global yang masih tinggi, serta aksi jual bersih investor asing yang mencapai US$ 1,19 miliar di pasar SBN.

Meski demikian, kenaikan yield tersebut justru membuka peluang bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi. 

Dengan yield acuan di kisaran 6,6% untuk tenor 10 tahun, tingkat pengembalian dinilai lebih menarik dibandingkan awal tahun.

Itu berarti titik masuk investor sekarang secara pendapatan memang lebih baik dibanding awal tahun," kata Josua.

Bahkan, minat investor global terhadap instrumen utang Indonesia masih cukup terjaga. 

Hal ini tercermin dari penerbitan sukuk global dan obligasi dua mata uang pada awal tahun yang tetap mencatat permintaan kuat, bahkan bisa ditetapkan dengan selisih imbal hasil yang lebih sempit dari panduan awal.

Namun, Josua mengingatkan bahwa daya tarik tersebut tetap dibayangi volatilitas pasar yang tinggi. Pergerakan harga minyak, nilai tukar rupiah, serta arus dana asing masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan obligasi ke depan.

Terkait penurunan CDS, ia menilai faktor eksternal masih menjadi pendorong utama. Meredanya ketegangan global, termasuk adanya harapan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, sempat memberikan sentimen positif ke pasar.

Meski begitu, faktor domestik tetap berperan penting dalam menjaga stabilitas, terutama karena pemerintah masih bisa mengakses pasar global dengan baik, strategi pembiayaan 2026 relatif terdiversifikasi, dan Bank Indonesia tetap aktif menjaga stabilitas.

"Jadi, kalau harus dibobot, saya melihat penurunan CDS ini lebih banyak ditopang oleh perbaikan sentimen global, sedangkan faktor domestik berperan sebagai penahan agar risiko Indonesia tidak kembali melonjak," ujar Josua.

Baca Juga: MSCI Pertahankan Pembatasan Saham RI, Ini Strategi Yang Bisa Dilakukan Investor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News