KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama pada Rabu (6/5/2026) setelah Amerika Serikat memberi sinyal kemungkinan mendekati kesepakatan dengan Iran. Sementara itu, yen Jepang kembali bergerak melemah mendekati level yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang. Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan menghentikan sementara operasi untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, dengan alasan adanya kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran. Pernyataan itu muncul tak lama setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat telah mencapai tujuannya dalam kampanye militer terhadap Iran, serta “tidak berharap muncul situasi tambahan.”
Kontrak minyak AS turun pada Rabu pagi lebih dari US$ 2 setelah pernyataan Trump, dengan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah mendekati US$ 100 per barel. “Sinyal dari Amerika Serikat tampaknya memberi keyakinan bahwa mereka tidak tertarik memperbarui permusuhan,” kata Kyle Rodda, analis senior di Capital.com. Namun, ia menilai situasi ini belum sepenuhnya kabar baik karena pasokan minyak masih tertahan dan Selat Hormuz masih tertutup. “Itu menunjukkan tekanan naik pada harga minyak akan tetap ada, dan dapat kembali menjadi masalah bagi pasar ke depannya,” ujar Rodda. Data
Reuters menunjukkan, euro tercatat di level US$ 1,1714 dan pound sterling diperdagangkan di US$ 1,35685, keduanya menguat sekitar 0,2% pada hari itu. Dolar Australia berada di US$ 0,7208, naik hampir 0,4% pada perdagangan awal, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,3% menjadi US$ 0,5905. Indeks dolar turun tipis 0,01% menjadi 98,299.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 4%, Cek Tabel Faktor Penggerak Harga Minyak (Selasa, 5/5) Pasar kini menantikan rilis data non-farm payrolls (NFP) AS akhir pekan ini, yang akan menjadi ujian apakah ekonomi AS masih cukup tangguh untuk membuat The Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga, atau justru pasar tenaga kerja yang melemah dapat kembali membuka peluang penurunan suku bunga. Terhadap yen Jepang, dolar AS diperdagangkan di 157,62 yen, turun 0,17% dari level akhir perdagangan AS, meski masih jauh di atas titik terendah pekan lalu saat Jepang melakukan intervensi, walaupun harga minyak kini melandai. Pergerakan tersebut menunjukkan pemulihan yen lebih disebabkan oleh absennya intervensi lanjutan dari otoritas Jepang, kata analis IG dalam catatan riset.
Tonton: Dari Roastery Lokal ke Pasar Global: Jalan Pilar Cuan Grup Triputra di Bisnis Kopi Tabel: Pergerakan Mata Uang Utama (6 Mei)
| Instrumen | Level Terakhir | Pergerakan Harian |
| Euro (EUR/USD) | 1,1714 | +0,2% |
| Poundsterling (GBP/USD) | 1,35685 | +0,2% |
| Dolar Australia (AUD/USD) | 0,7208 | +0,4% |
| Dolar Selandia Baru (NZD/USD) | 0,5905 | +0,3% |
| Indeks Dolar (DXY) | 98,299 | -0,01% |
| Dolar vs Yen (USD/JPY) | 157,62 | -0,17% |
Sumber: Reuters Dampak ke Indonesia
Pelemahan dolar AS setelah muncul sinyal peluang kesepakatan AS-Iran berpotensi memberi ruang bagi rupiah untuk menguat atau setidaknya stabil, karena tekanan global dari risk-off mereda sementara. Namun efek positif ini masih rapuh, karena Selat Hormuz belum benar-benar pulih dan pasokan minyak dunia masih terganggu. Artinya, risiko lonjakan harga minyak masih membayangi, yang biasanya negatif untuk negara importir minyak seperti Indonesia. Jika harga minyak kembali naik, Indonesia berisiko menghadapi:
- tekanan inflasi energi (BBM, transportasi, logistik)
- pelebaran defisit transaksi berjalan
- meningkatnya beban subsidi/kompensasi energi pemerintah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News