Cek Prospek Kinerja AADI di Tengah Penguatan Harga Komoditas dan Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) membukukan hasil yang solid pada semester pertama tahun 2026. Harga komoditas batubara yang tengah menguat diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja hingga akhir tahun. 

Adolf R B Setiadi, Equity Analyst KB Valbury Sekuritas mengatakan, harga jual rata-rata (ASP) yang lebih tinggi dan biaya tunai yang tangguh lebih dari cukup untuk mengimbangi sedikit penurunan volume akibat gangguan cuaca di awal tahun.

Rasio pengupasan yang meningkat, dengan operasi penambangan yang sudah menunjukkan peningkatan tajam pada kuartal kedua tahun 2026 juga turut mendukung kinerja pada semester pertama tahun 2026. 


Manajemen mengkonfirmasi bahwa kekeringan yang disebabkan El Niño baru-baru ini dan penurunan permukaan sungai di Kalimantan tidak menghambat logistik pengangkutan, konsisten dengan volume pengangkutan yang meningkat 22,3% secara quarter on quarter (QoQ) menjadi 20,4 juta metrik ton (Mt) pada kuartal kedua tahun 2026 dan meningkat 4,3% secara year on year (YoY) menjadi 37,0 juta metrik ton pada semester pertama tahun 2026. 

Baca Juga: Adaro Andalan Indonesia (AADI) Bersiap Bagi Dividen Tunai US$ 200 Juta

“Lebih lanjut, harga batubara termal yang lebih kuat di laut akan mendukung ASP AADI, sementara pengetatan persediaan pembangkit listrik di India dan gangguan pasokan domestik di Tiongkok, pasar yang masing-masing menyumbang 19% dan 9% dari penjualan AADI pada semester pertama pertama tahun 2026, dapat membantu meningkatkan permintaan dari pasar ekspor untuk AADI,” ujar Adolf dalam risetnya pada Senin (7/9/2026). 

Adolf mengantisipasi momentum operasional yang berkelanjutan di semester kedua tahun 2026 karena cuaca yang menguntungkan akan mendukung aktivitas penambangan yang berkelanjutan.

Ia juga memperkirakan tren yang menguntungkan dalam rasio pengupasan akan berlanjut, yang akan membantu menjaga biaya tetap relatif stabil. 

Selain itu, AADI secara bertahap melakukan diversifikasi basis pendapatan di luar batu bara, dengan penyewaan aset listrik dan layanan pendukung operasi dan pemeliharaan menyumbang pendapatan sebesar US$ 44,2 juta pada semester pertama tahun 2026, termasuk US$ 40,7 juta pendapatan sewa aset dan US$ 3,5 juta dari layanan pendukung. 

Meskipun kontribusinya masih tergolong kecil, yaitu sekitar 1,7% dari pendapatan konsolidasi, aliran pendapatan berulang dan berbasis aset ini seharusnya secara bertahap mendukung ketahanan pendapatan dan kualitas margin.

Baca Juga: Pendapatan dan Laba Bersih Adaro Andalan Indonesia (AADI) Menyusut di Kuartal I-2026

Lebih penting lagi, Sale and Purchase Agreement (SPA) yang mengikat dengan Yancoal untuk kepemilikan AADI di Kestrel Coal Group (KCG) berfungsi sebagai katalis alokasi modal utama.

AADI dijadwalkan menerima sekitar US$ 888 juta dalam bentuk tunai di muka setelah penyelesaian yang diharapkan pada kuartal ketiga tahun 2026.

Di luar pengurangan utang dan pertumbuhan organik, Adolf melihat ini sebagai kendaraan pengembalian pemegang saham utama. 

“Setiap pembayaran 10% dari hasil Kestrel dapat secara bertahap menambah sekitar 1,8% pada imbal hasil dividen tahun 2026, menciptakan katalis jangka pendek yang sangat menarik bagi dana pendapatan,” terang Adolf. 

 
AADI Chart by TradingView

Sementara itu, Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan melihat outlook AADI masih menunggu approval Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Ia tetap ekspektasikan ekspansi volume meningkat 1,9% yoy ditopang kontribusi incremental dari PT Mustika Indah Permai (MIP) dan Balangan.

Erindra menilai status izin usaha pertambangan khusus (IUPK) pada AADI memberikan keunggulan struktural dibanding peers dalam hal kepastian kuota produksi.

Ia bilang, upgrade estimasi laba yang signifikan mencerminkan potensi upside dari harga batubara belum sepenuhnya tercermin di valuasi sebelumnya.

“Kombinasi eksekusi operasional yang kuat dengan tailwind harga batubara memberikan double engine growth untuk earnings AADI ke depan,” ucap Erindra.

Baca Juga: Indonesia Mau Jadi Penentu Harga Komoditas Global, Tapi Ada Risiko Besar Mengadang

Erindra mencatat harga batubara yang naik di atas US$ 145 per ton pada awal September, mencapai level tertinggi dalam 11 pekan, didorong kuatnya permintaan energi global dan risiko pasokan.

Penguatan terjadi meski China mencatat kapasitas listrik tenaga surya kini melampaui batu bara, untuk pertama kalinya. Namun, batu bara masih menjadi sumber pembangkit listrik terbesar dunia, dengan produksi sekitar 11.000 TWh pada 2026.

Menurutnya, lonjakan permintaan listrik global membuat transisi dari batubara ke energi terbarukan berjalan lebih lambat. IEA memperkirakan batu bara masih menjadi sumber pembangkit terbesar hingga 2030. 

“Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang mengetatkan pasokan LNG global dan mendorong harga energi turut memperkuat prospek permintaan batubara,” ujar Erindra.

Adolf memproyeksikan pendapatan dan laba bersih AADI pada tahun 2026 dapat mencapai masing – masing US$ 5,45 miliar dan US$ 1,02 miliar. Adapun pada tahun 2025, AADI membukukan pendapatan sebesar US$ 4,91 miliar dan laba bersih sebesar US$ 760,18 juta. 

Baca Juga: Ambisi Pemeirntah Ingin Jadi Penentu Harga Komoditas Global dan Tantangannya

Adolf dan Erindra merekomendasikan buy saham AADI dengan target harga masing – masing Rp 12.800 per saham dan Rp 12.400 per saham.

Risiko yang perlu diwaspadai antara lain harga batubara yang lebih lemah, peningkatan biaya, gangguan logistik, dan penundaan transaksi Kestrel.

Seperti diketahui, pendapatan AADI pada semester pertama tahun 2026 meningkat 6,1% yoy menjadi US$ 2,55 miliar dan laba bersih meningkat 10,5% yoy menjadi US$ 473,8 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News